Ronde Pak Petruk Cipto Roso Tulungagung, Berdiri Sejak 1955 dan Jadi Langganan Pejabat

Ronde Pak Petruk Cipto Roso Tulungagung, Berdiri Sejak 1955 dan Jadi Langganan Pejabat

Tulungagung, SEJAHTERA.CO – Bisnis minuman tradisional Tionghoa yakni Ronde mungkin saja disepelekan oleh masyarakat. Namun jika ditangan orang yang tepat seperti Sutris (63), pemilik Ronde Pak Petruk Cipto Roso yang sudah eksis selama 68 tahun tentu berbeda cerita.

Pada sisi utara di Jalan Wage Rudolf Supratman masuk Kelurahan Kutoanyar Kecamatan/Kabupaten Tulungagung, terdapat deretan ruko lawas yang dibangun sejak tahun 1992 silam dan belum direnovasi sampai sekarang. Pada salah satu deretan ruko yang menjual aneka makanan, satu diantaranya nampak berbeda lantaran hanya menjual minuman tradisional Tionghoa yakni Ronde Pak Petruk Cipto Roso.

Ronde Pak Petruk Cipto Roso yang diyakini sebagai pedagang ronde tertua yang masih eksis di Kabupaten Tulungagung hingga sekarang. Diketahui, Ronde Pak Petruk Cipto Roso tersebut saat ini dikelola oleh Sutris (63) warga Desa Sobontoro Kecamatan Boyolangu Kabupaten Tulungagung.

Read More

Sutris sendiri rupanya bukan pendiri bisnis minuman Ronde Pak Petruk Cipto Roso, lantaran Ronde Pak Petruk Cipto Roso dimulai sejak tahun 1955 silam dan didirikan oleh ayah mertuanya.

“Bukan saya pendirinya, saya cuma penerus, Ronde Pak Petruk Cipto Roso awal didirikan tahun 1955 oleh ayah mertua saya Suraji alias Petruk, lokasinya dulu di depan (Seberang jalan) Gedung Bioskop Istana atau yang sekarang jadi Barata,” kata Sutris, Senin (28/8).

Setelah puluhan tahun dikelola ayah mertuanya, bisnis minuman Ronde Pak Petruk Cipto Roso sempat berganti pemilik yakni saudara dari istrinya. Namun saat bisnis dikelola saudaranya ternyata tidak berlangsung lama, karena saudara dari istrinya itu tidak telaten dalam mengelola bisnis ronde tersebut, mengingat saat itu bisnis ayah mertuanya itu belum terlalu terkenal.

Barulah tepat pada tahun 1988, Sutris akhirnya memberanikan diri untuk mengelola bisnis peninggalan ayah mertuanya itu dengan dibantu oleh istrinya. Bahkan sebelum berjualan ronde pada sore hari, Sutris lebih dahulu menyelesaikan pekerjaannya sebagai montir di jalan Patimura (Simpang empat gleduk) masuk Kelurahan Tertek Kecamatan/Kabupaten Tulungagung.

“Akhirnya tahun 1988 saya kelola dan saat itu kalau pagi kerja di bengkel vulkanisir, sorenya jualan ronde,” ungkapnya.

Setelah dikelola dengan baik, tanpa disangka dalam waktu yang relatif singkat ada perubahan meyakinkan terhadap bisnis peninggalan ayah mertuanya itu semakin terasa. Pasalnya, pada tahun yang sama saat dia memulai karier barunya, dia sempat mendapatkan penghargaan dari Gubernur Jawa Timur Sularso yang menjabat dari periode 1988-1993 kala berkunjung ke Tulungagung.

Sutris bercerita, kala itu dia menghadiri acara penyerahan sertifikat Argo Wilis oleh Bupati Tulungagung Jaifudin Said dan dihadiri oleh Gubernur Jawa Timur Sularso.

Saat itu, mereka mencicipi minuman Ronde Pak Petruk Cipto Roso yang dijual oleh Sutris yang rupanya minuman itu membuat mereka terkesan, mengingat cuaca di Sendang sering kali dingin, sehingga mencicipi minuman wedhang ronde menjadi pilihan yang tepat.

“Saat mencicipi ronde saya itu, akhirnya mereka terkesan, setelah itu pak Jaifudin Said memerintahkan ajudannya untuk mencari penjual ronde yang ada di Sendang itu, setelah itu saya dapat penghargaan dari Gubernur Sularso di tahun 1988 dan pada tahun 1994 juga dapat penghargaan dari Gubernur Basofi Sudirman,” jelasnya.

Sejak saat itu, bisnis minuman tradisional Ronde Pak Petruk Cipto Roso yang dijalankan Sutris menjadi semakin terkenal yang bahkan dia juga kerap diundang untuk hadir di Pendopo Kongas Arum Kusumaning Bongso untuk menyuguhkan minuman ronde kepada pejabat saat ada hajatan. Itu berlangsung sejak kepemimpinan Bupati Jaifudin Said sampai dengan Maryoto Birowo saat ini.

Terbaru, dia juga diminta untuk menyuguhkan hidangan ronde kala Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Paku Alam X berkunjung ke Tulungagung dalam acara Muhibah Budaya Mataraman Yogyakarta di Tulungagung.

Sutris mengaku tidak menyangka jika ditangannya, usaha peninggalan ayah mertuanya itu bisa meningkat pesat dan semakin terkenal.

“Tentunya saya tidak menyangka kalau usaha ini bisa sampai seperti ini, dikenal pejabat bahkan sampai dapat penghargaan sebanyak dua kali oleh mantan Gubernur Jawa Timur, tentu saya bersyukur,” ujarnya.

Selama 35 tahun berbisnis, Sutris menggantungkan hidupnya pada jualan ronde tersebut. Bahkan dia bisa membiayai pendidikan terhadap tiga anaknya yang bisa meraih gelar sarjana. Sejalan dengan itu pada tahun 2014, dia bisa berangkat ke tanah suci menunaikan ibadah haji dengan menyisihkan uang hasil penjualan rondenya sedikit demi sedikit.

Ronde Pak Petruk Cipto Roso itu sendiri buka dari pukul 17.00 WIB sampai dengan pukul 21.30 WIB atau tergantung porsi ronde yang dibawa sudah habis atau belum. Diketahui saat ini dia memiliki dua cabang yang mana satu cabang dia tempatkan di depan rumahnya dan dipegang oleh anaknya untuk melayani pembeli di sekitar rumah.

“Rencananya usaha ini akan dilanjutkan oleh keturunan saya, saya perkirakan nanti akan diteruskan cucu saya karena kelihatannya dia telaten dalam berbisnis,” jelasnya.

Disinggung terkait resep ronde yang dia jual, Sutris mengaku jika sebenarnya dia masih menggunakan resep autentik peninggalan ayah mertuanya. Bahannya terdiri dari kacang, jelly, kue bulat kenyal yang berisi kacang tanah dan kuah jahe.

Selain itu terdapat beberapa modifikasi yang dilakukan olehnya yakni terkait pewarnaan ronde yang mana dia tidak lagi menggunakan pewarna makanan pada ronde yang dijualnya.

Pasalnya, resep peninggalan ayah mertuanya itu berdasarkan resep ronde khas Semarang yang memiliki ciri khas warna-warni pada isian wedhang ronde. Tetapi dikarenakan dia mempersilahkan konsumennya untuk mengkritik dagangannya, akhirnya membuat dia memutuskan untuk sedikit mengubah resep yang ditinggalkan ayah mertuanya itu agar ronde yang dijualnya makin diminati masyarakat.

“Cuma warnanya saja yang dirubah, sisanya tetap sama. Dulu dapat kritikan dari orang Tionghoa katanya tidak usah diberi pewarna agar lebih sehat, akhirnya tidak saya kasih dan ternyata memang benar, setelah itu peminatnya semakin banyak,” ungkapnya.

Meski sudah 35 tahun mengelola bisnis tersebut dan sudah dikenal banyak orang dan bahkan para pejabat, namun usaha yang dijalankan Sutris itu bukannya berarti tidak mengalami kendala sedikitpun.

Pasalnya, saat ini penjualan ronde miliknya mulai meredup lantaran dulu pada tahun 90an, dia mampu menjual ronde sebanyak 200 mangkuk, perhari sekarang justru hanya terjual 50 mangkuk.

Pihaknya sendiri tidak mempermasalahkan atas terjadinya penurunan penjualan ini, mengingat roda selalu berputar dan dia memaklumi itu. Selain itu, saat ini juga semakin marak penjual ronde yang tentunya mempengaruhi penjualan ronde.

Untuk harga ronde yang dijualnya terbilang terjangkau yakni hanya Rp 6.000 per mangkuknya, sehingga dalam sebulan omset kotor yang diterimanya mencapai Rp 9 juta.

“Namanya usaha, disyukuri saja, usaha saya pernah ramai pada masanya, mungkin sekarang sudah waktunya meredup, yang terpenting setiap harinya tetap ada penghasilan, bagi saya itu sudah cukup,” pungkasnya.

Reporter : Mochammad Sholeh Sirri

Editor : Dhita Septiadarma

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *