Kediri, SEJAHTERA.CO – Persoalan sampah di Kota Kediri kian mengkhawatirkan. Setiap hari, sekitar 160 ton sampah masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), dengan sekitar 80 persen berasal dari limbah rumah tangga.
Kondisi ini menjadi alarm serius yang mendorong langkah cepat dari Pemerintah Kecamatan Mojoroto.
Camat Mojoroto, Abdul Rahman, S.H., M.Si., menegaskan bahwa situasi ini tidak bisa dibiarkan berlarut dan berpotensi mengarah pada darurat sampah jika tidak ditangani secara kolektif.
“Ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tapi tanggung jawab bersama. Volume sampah kita sudah sangat tinggi. Maka, kesadaran dari rumah tangga menjadi kunci utama,” ujarnya, Senin (13/4/2026).
Sebagai langkah konkret, pihak kecamatan akan menginstruksikan seluruh lurah untuk meneruskan imbauan kepada RT, RW, serta lembaga kemasyarakatan agar menggerakkan warga melakukan pemilahan sampah secara mandiri.
Baca Juga :Gasak Perkakas Villa dengan Modus Sewa, Marak Di Kota Batu
Gerakan yang didorong adalah pemanfaatan lahan pekarangan melalui metode “joglangan sampah”, yakni membuat lubang untuk menampung sampah organik seperti sisa makanan dan daun-daunan agar terurai secara alami menjadi kompos.
Menurut Abdul Rahman, cara sederhana ini memiliki dampak besar jika dilakukan secara masif. Selain mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA, juga mampu meningkatkan kesuburan tanah di lingkungan rumah.
“Joglangan ini mendidik masyarakat agar lebih bijak. Sampah organik tidak perlu dibuang, tapi bisa dimanfaatkan kembali. Ini solusi nyata dan murah,” tegasnya.
Namun demikian, ia mengingatkan agar sampah anorganik seperti plastik dan pecahan kaca tetap dipisahkan, karena tidak dapat terurai dan berpotensi membahayakan.
Dengan dominasi sampah rumah tangga yang mencapai 80 persen, perubahan pola pengelolaan dari tingkat rumah diyakini akan berdampak signifikan terhadap pengurangan beban TPA.
Baca Juga :Ratusan ASN Naik Pangkat, Wali Kota Kediri Tegaskan Bukan Sekadar Hak, Tapi Amanah Pelayanan Publik
“Kita ingin mengubah pola pikir masyarakat. Dari membuang menjadi mengelola. Dari darurat sampah menjadi Kediri yang nyaman dan bersih,” pungkasnya.
Langkah ini diharapkan menjadi gerakan bersama yang berkelanjutan, sekaligus solusi nyata dalam menghadapi ancaman sampah di Kota Kediri.



















