Ponorogo, SEJAHTERA.CO – Meski sebagian wilayah Ponorogo telah diguyur hujan dalam beberapa hari yang lalu, sejumlah lokasi harus mendapatkan droping air bersih dari BPBD, lantaran masih kesulitan mendapatkan air bersih. Bahkan jumlah warga yang terdampak kekeringan kian bertambah.
Kepala BPBD Kabupaten Ponorogo, Masun mengatakan, hujan yang turun beberapa hari terakhir diakui masih merupakan masa transisi.
Sebab jika mengacu pada rilis dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) disebutkan jika hujan akan turun pada pertengahan bulan November.
“Dari rilis terbaru tersebut mengatakan dimungkinkan prakiraan normal hujan di Ponorogo minggu kedua di bulan November,” ungkap Masun.
Oleh karena itu, hujan yang terjadi pada beberapa hari yang lalu masih belum berdampak terhadap kekeringan. Pun, jika terjadi hujan hanya membasahi lapisan atas permukaan tanah. Sehingga air hujan belum bisa mencapai sumber air bawah tanah.
“Artinya hujan secara real belum menambah sumber air, sehingga masih kami droping,” papar Masun.
Terbaru, dusun yang mengalami perluasan kekeringan dan perlu mendapatkan droping air bersih yakni berada di Dukuh Joso, Desa Wates, Kecamatan Slahung. Adapun di wilayah tersebut ada 2 RT yang mengalami kesulitan air bersih.
“Memang masuk potensi wilayah kekeringan, awalnya hanya 25 KK yang terdampak saat ini bertambah menjadi 145 KK,” imbuhnya.
Sementara untuk wilayah lain yang juga mengalami kekeringan, saat ini pihak BPBD juga masih melakukan droping air bersih sepekan dua kali. “Saat ini total yang kita droping 12 Dukuh di 10 Desa dari 6 Kecamatan,” pungkasnya.
Reporter: Sony Dwi Prastyo
Editor: Dhita Septiadarma



















