Tanah Gerak Dampak Cuaca Ekstrem di Kabupaten Trenggalek Patut Diwaspadai

Tanah Gerak Dampak Cuaca Ekstrem di Kabupaten Trenggalek Patut Diwaspadai

Trenggalek, SEJAHTERA.CO – Warga Kabupaten Trenggalek imbauan untuk meningkatkan kewaspadaan soal potensi gerakan tanah saat hujan melanda wilayah Bumi Menak Sopal. Imbauan peningkatan kewaspadaan itu mengingat saat ini wilayah Trenggalek rentan dilanda potensi cuaca ekstrem.

 

“Merujuk rilis BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda, masyarakat dihimbau waspada potensi cuaca ekstrem, 14-20 Februari,” kata Kepala BPBD Trenggalek, Triadi Admono, Rabu (14/2).

Read More

Potensi cuaca ekstrem itu, lanjut Triadi, berpotensi menyebabkan bencana hidrometeorologi seperti banjir, puting beliung hingga longsor. Longsor menjadi ancaman yang paling berpotensi terjadi, mengingat mayoritas wilayah Kabupaten Trenggalek adalah kawasan pegunungan.

 

“Untuk itu masyarakat dihimbau untuk lebih meningkatkan kewaspadaan,” imbuhnya.

Kondisi itu pula yang menempatkan Kabupaten Trenggalek menjadi salah satu daerah yang berpotensi terjadi gerakan tanah dalam kondisi tertentu, seperti misalnya saat diguyur hujan lebat.

Merujuk data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, ada 13 kecamatan dari 14 kecamatan di Trenggalek berpotensi terjadi gerakan tanah.

 

Potensi gerakan tanah itu bervariasi. Sebanyak 11 kecamatan berpotensi gerakan tanah menengah-tinggi dan dua kecamatan yaitu Kecamatan Bendungan dan Trenggalek berpotensi gerakan tanah menengah-tinggi, serta berpotensi banjir bandang/aliran bahan rombakan. Kecamatan Suruh menjadi satu-satunya daerah yang tidak masuk daerah pemetaan.

“Potensi gerakan tanah menegah adalah daerah yang mempunyai potensi menengah untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan pada lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan,” ujarnya.

 

Sementara untuk potensi gerakan tanah tinggi, adalah daerah mempunyai potensi tinggi untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

Berkaca dari kondisi itu, langkah mitigasi terus dilakukan, mulai dari pemasangan alat Early Warning System hingga kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana.

 

“Untuk itu kita terus perbanyak desa tangguh bencana,” pungkasnya.

Reporter: Angga Prasetya

Editor: Dhita Septiadarma

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *