Tulungagung, SEJAHTERA.CO – Ratusan kilometer trotoar atau tempat pejalan kaki di Tulungagung saat ini kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Karena keterbatasan anggaran, Pemkab Tulungagung berencana mengusulkan Corporate Social Responsibility (CSR) untuk mendanai perbaikan trotoar tersebut.
Kepala Dinas Pekerkaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Tulungagung, Dwi Hari Subagyo mengatakan, total panjang ruas trotoar di Tulungagung mencapai 110 kilometer.
Rinciannya, sepanjang 35 kilometer untuk trotoar ruas kanan dan sepanjang 75 kilometer untuk trotoar ruas kiri di seluruh wilayah Tulungagung.
Baca Juga :Nelayan Tenggelam di Perairan Lamongan Ditemukan
Saat ini, mayoritas dari ratusan kilometer ruas trotoar tersebut memerlukan perbaikan yang sifatnya harus pembangunan ulang secara bertahap. Bahkan diketahui, satu titik ruas trotoar di Tulungagung yang berlokasi di sepanjang Jalan Diponegoro belum pernah dilakukan perbaikan sama sekali sejak tahun 2009.
“Berdasarkan analisis kami, kondisi trotoar di Kabupaten Tulungagung memang sudah saatnya dilakukan perbaikkan komprehensif,” kata Dwi Haru Subagyo, Rabu (28/5/2025).
Kemudian di tahun 2019, ungkap Hari, pihaknya sempat merencanakan perbaikan trotoar termasuk perbaikan saluran air di bawahnya yang berlokasi di Jalan Ahmad Yani Timur sekitar Polres Tulungagung. Diketahui, rencana perbaikan pada ruas trotoar tersebut membutuhkan anggaran dengan kisaran sebesar Rp 7,5 miliar.
Baca Juga :Ratusan Santri MA Rejoso Jombang Manasik Haji, Simulasikan Langsung Prosesi Ibadah
Tahap pelaksanaan proyek tersebut sebenarnya sudah masuk ke dalam proses pembuatan Detail Engineering Design (DED) untuk menentukan konsep final bangunan baru trotoar itu. Namun sayangnya, proyek tersebut terpaksa dibatalkan lantaran tidak adanya anggaran yang tersedia untuk pelaksanaan.
“Saat itu kami terbentur covid-19, sehingga anggarannya direfocusing sampai tahun 2021. Kemudian di tahun 2022-2024 kita fokus perbaikan jalan, dan di tahun ini kembali diberlakukan refocusing, sehingga kami juga fokus untuk perbaikan jalan,” ungkapnya.
Selain itu, lanjut Hari, untuk memperbaiki seluruh ruas trotoar di Tulungagung bisa dipastikan nantinya akan memerlukan anggaran yang cukup besar agar penanganan bisa 100 persen. Meski begitu, perbaikan ruas trotoar tersebut memang harus tetap dilakukan lantaran terdapat trotoar yang membahayakan.
Baca Juga :Imigrasi Ponorogo tidak Menerbitkan Paspor Dewi Astutik yang Menjadi Buron Penyelundupan 2 Ton Sabu
Apalagi, kondisi gorong-gorong di bawah trotoar di wilayah Tulungagung terutama di kawasan perkotaan juga sudah mengalami penyempitan maupun rusak yang jumlahnya terhitung tinggi. Hal ini mengakibatkan sering terjadinya banjir di kawasan perkotaan saat terjadi hujan deras dengan intensitas yang tinggi.
“Jadi tidak hanya trotoarnya yang diperbaiki, melainkan termasuk gorong-gorongnya. Ibaratnya, kalau barang jelek diperbaiki itu sama dengan buang uang, sehingga yang paling efektif untuk dilakukan adalah membangun ulang trotoar yang rusak,” ujarnya.
Hari menjelaskan, apabila ada kemungkinan untuk melakukan perbaikan trotoar, pihaknya akan segera melakukan pembangunan ulang secara bertahap dimulai pada lokasi prioritas. Maka dari itu, saat ini pihaknya tengah berkoordinasi dengan berbagai pihak agar bisa mendapatkan CSR untuk perbaikan trotoar.
Menurut Hari, jika rencana ini disetujui oleh Bupati Tulungagung, pihaknya akan memulai pengajuan proposal untuk program CSR ini kepada perusahaan lokal. Serta jika nantinya program CSR disetujui oleh investor, maka dana CSR itu akan dipakai untuk membangun trotoar smart undercity dan perbaikan trotoar lain.
“Setelah kami kaji lagi, ternyata program CSR ini tidak relevan untuk pembangunan infrastruktur jalan, sehingga bisa dialihkan untuk perbaikan trotoar,” pungkasnya.



















