Jakarta, SEJAHTERA.CO – Presiden Jokowi, saat di Pasar Induk Cipinang, Jakarta berjanji jika harga beras akan turun dalam dua minggu.
Dikatakan Presiden Jokowi, Badan Urusan Logistik (Bulog) sudah turun tangan mengatasi persoalan harga beras yang hingga kini masih tinggi.
Presiden Jokowi juga menambahkan jika stok beras di Pasar Induk Cipinang, Jakarta, masih melimpah.
Lalu persoalan beras di daerah, yang notabene sebagai pemasok ke Jakarta, akan diatasi dengan mengirim pasokan tersebut.
“Nanti dilihat, saya kira dalam seminggu-dua minggu ini saya rasa akan sedikit turun (harga beras). Sambil nunggu panen, kalau panen raya datang pasti sudah (turun),” kata Jokowi di Pasar Induk Cipinang, Jakarta, Kamis (15/2).
Jika dilihat dari janji presiden bahwa satu dua minggu lagi beras akan terus, sepertinya belum ada tanda-tandanya di lapangan.
Di Kabupaten Kediri, hingga janji presiden bahwa harga beras akan turun menjelang habis, harga beras masih “stabil” tinggi alias mahal.
Belum ada tanda-tanda turun. Panen satu-dua (satu desa satu petani panen), memang ada tapi gabah dan beras tetap bertengger tinggi.
Harga gabah kering sawah masih Rp 7.300 hingga Rp 7.400 perkilogram untuk jenis 64. Sementara untuk beras 64 masih kosong.
Sementara padi yang panen satu-dua saat ini adalah jenis Bramo. Harganya berasnya dari pedagang masih Rp 14.500 perkilogram.
Kemudian toko ritel atau toko pracangan harga beras Bramo antara Rp 1.5.000 hingga Rp 15.500 perkilogram di Kabupaten Kediri.
Pemilik toko pracangan di kawasan Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri, Malikha, sudah dua minggu tidak menjual dua jenis beras, Bramo dan 64.
Tidak ada pasokan dari pedagang beras yang menjadi langganannya, karena stok di gudang juga habis. Baru tiga hari lalu mendapat pasokan tapi jumlahnya terbatas.
Para pedagang beras saat ini masih gambling (untung-untungan). Tengkulak pun tak berani main borong padi di sawah. Takut turun harga yang mendadak.
Penyebabnya, selain panen raya, mungkin ada ketentuan dari pemerintah pusat yang mendadak. Apalagi belakangan sejumlah kalangan meminta HET beras disesuaikan.
Untuk mengantisipasi “kalah” (rugi) besar, pedagang beras lebih dulu menghubungi toko-toko langganannya, butuh berapa kuintal hari ini.
“Kalau data permintaan beras terhimpun, kami baru membeli gabah ke petani, lalu menggiling menjadi beras dan langsung disalurkan ke toko-toko langganan,” katanya.
Toko pun tidak berani membeli banyak saat ini, satu atau dua kuintal. Kalau habis baru kulakan (membeli) lagi.
Permintaan beras secara eceran, saat ini masih tinggi. Satu kuintal habis dalam dua hari. Padahal sebagian warga baru menerima bantuan pangan beras 10 kilogram.
“Beras eceran ini, selain dikonsumsi langsung juga untuk campuran beras bantuan. Beras bantuan kalau dimasak atos (keras). Jadi harus dicampur,” kata pemilik toko.
Editor: Gimo Hadiwibowo



















