Baca Juga :KPU Ponorogo Siapkan Anggaran Keselamatan Kerja AdHoc
Untuk Kecamatan Sumbergempol saja, tercatat hanya ada satu desa yang masyarakatnya menanam tanaman tembakau pada tahun 2024 ini.
Meski adanya program PAT yang difokuskan pada tanaman padi, pihaknya mengaku jika hal itu tidak mempengaruhi produksi tanaman tembakau yang terbukti melimpah.
“Saya kira tidak berpengaruh, karena kita tahu lahan tembakau tempatnya tertentu dan memiliki pasarnya sendiri. Apalagi dengan kemarau panjang tahun ini, menambah faktor melimpahnya hasil panen tembakau,” ungkapnya.
Baca Juga :Sempat Berpindah-Pindah, Unit Reskrim Polsek Pesantren Bekuk Pencuri Ponsel
Suyanto menyebut, pada masa panen tahun 2023 kemarin, petani biasa memanen 1 ton per 100 ru lahan tanaman tembakau.
Sedangkan tahun ini, petani tembakau justru mampu memproduksi 1,1 ton hingga 1,2 ton per 100 ru pada lahan tanaman tembakau di Tulungagung.
Meski hasil panennya melimpah, dia tidak bisa memastikan berapa jumlah hasil panen tembakau asal Tulungagung yang dijual ke kabupaten atau kota lain di luar Tulungagung.
Itu karena kapasitas Dispertan sendiri hanya memberikan pemberdayaan dan monitoring terhadap petani maupun proses produksinya.
“Setahu kami, tembakau di Tulungagung ludes dibeli perusahaan rokok lokalan, tetapi bisa jadi juga dijual ke kabupaten/kota lain. Jumlah pastinta kami tidak tahu, karena kami hanya memantau produksinya saja dan melakukan pemberdayaan kepada petani,” pungkasnya.



















