Selain itu, pihaknya saat ini juga tengah menunggu instruksi dari pimpinan, sehingga pihaknya juga belum melakukan proses lelang untuk perbaikan infrastruktur pada triwulan kedua.
Imbasnya, ada sekitar 12 hingga 15 proyek perbaikan infrastruktur dengan anggaran senilai Rp80 miliar yang belum bisa dikerjakan.
“Pada triwulan kedua ini, kami pesimis tidak bisa mencapai target dan bahkan kemungkinan akan molor sampai triwulan ketiga nanti atau pada Juli 2026 mendatang,” ungkapnya.
Secara rinci, Sodik menyebut, beberapa perbaikan infrastruktur yang tersendat diantaranya, ruas jalan Jabalsari, Loderesan, Karangsono, Tenggong, Panjer, Kaligentong dan jembatan Junjung serta Pakel.
Hingga kini, pihaknya masih terus menunggu kepastian instruksi dari pimpinan untuk memulai proses lelang proyek itu.
Sedangkan dampak kenaikan harga BBM, secara otomatis akan menyebabkan target perbaikan jalan yang berkurang dari yang semula sepanjang 90 kilometer, kemungkinan akan berkurang 30 persen.
Meski begitu, pihaknya tetap berupaya bisa menaikan angka kemantapan jalan, mengingat kemantapan jalan di Tulungagung masih 64 persen.
“Kalau perbaikan infrastruktur di triwulan kedua tidak sesuai target, maka kami akan memaksimalkan dan menambah penyelesaian perbaikan infrastruktur di triwulan ketiga. Tahun ini target kemantapan jalan di Tulungagung bisa mendekati angka 70 persen,” pungkasnya.



















