Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Trenggalek: Masyarakat Diimbau Waspadai Kasus DBD

Trenggalek, SEJAHTERA.CO – Masyarakat Kabupaten Trenggalek dihimbau untuk meningkatkan kewaspadaan perihal ancaman penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di musim hujan.

Sebab, populasi nyamuk aedes aegypti penyebab DBD bakal meningkat karena telur yang belum menetas akan menetas saat habitat perkembangbiakannya mulai tergenang air hujan.

 

Read More

“Untuk mengantisipasi itu, kami terus melakukan upaya-upaya pencegahan,” kata Kepala Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Trenggalek, Sunarto.

Pihaknya menyebut telah mengambil langkah sesuai prosedur penanganan demam berdarah. Mulai dari penyelidikan epidemiologi hingga fogging selektif yang sudah dilakukan di beberapa titik.

 

Fogging itu dilakukan apabila di radius 100 meter dari penderita ada gejala DBD. Sebab fogging tidak bisa sembarangan dilakukan karena kandungan bahannya mencemari lingkungan.

“Untuk itu fogging dilakukan secara selektif,” imbuhnya.

Di luar itu, Sunarto meminta kepada masyarakat ikut aktif menggalakkan gerakan pemberantasan sarang nyamuk minimal dilakukan dilingkungan sekitar tempat tinggalnya masing-masing, selain memaksimalkan peran kader juru pemantau jentik.

 

Langkah itu menjadi kunci ampuh untuk memutus perkembangbiakan nyamuk aedes aegypti dan aedes albopictus yang dikenal sebagai pembawa virus dengue masuk ke tubuh manusia.

“Seperti misalnya 3 M. Menguras bak mandi minimal seminggu sekali, menutup bak air dan mengubur tempat yang berpotensi jadi sarang nyamuk. Kemudian abatisasi di tempat yang tidak mungkin dikuras, dan kegiatan-kegiatan lainnya. Semoga langkah-langkah itu dapat mencegah kasus hingga kematian,” imbuhnya.

Langkah pencegahan secara masif itu dilakukan agar kasus DBD di Bumi Menak Sopal dapat ditekan. Apalagi beberapa daerah di Trenggalek masuk kategori endemik, artinya muncul kasus saban tahun.

 

Merujuk data kasus DBD di Trenggalek pada 2023 lalu, tercatat ada sebanyak 128 kasus yang tersebar hampir merata di 13 kecamatan di Trenggalek. Apalagi dalam rentang waktu itu, menelan satu korban jiwa di wilayah Kecamatan Bendungan.

“Kasus DBD di tahun 2023 kemarin ada satu orang meninggal dunia, usia dewasa warga Kecamatan Bendungan. Untuk tahun 2022 ada dua orang,” imbuhnya.

 

Dengan optimalisasi langkah pencegahan itu, pihaknya berharap tingkat kasus hingga fatalitas kematian akibat DBD dapat dicegah sedini mungkin. Sebab, pada musim hujan berpotensi menimbulkan banyak genangan-genangan yang membuat nyamuk penyebab DBD itu mudah berkembang biak.

Namun dengan langkah pemberantasan sarang nyamuk itu, telur-telur yang ada di tempat perkembangbiakan nyamuk bertelur bisa hilang termasuk jentik-jentiknya sehingga tidak menjadi nyamuk dewasa yang bisa menularkan penyakit DBD.

 

“Semoga dengan langkah bersama ini kasus demam berdarah dengue di Trenggalek bisa dikendalikan seminimal mungkin,” pungkasnya.

Reporter: Angga Prasetya

Editor: Dhita Septiadarma

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *