Blitar, SEJAHTERA.CO – Pengusutan kasus dugaan pelemparan kayu berpaku oleh ustad di Pondok Pesantren Al Mahmud Desa Bacem, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar hingga menyebabkan santrinya tewas terus diusut polisi.
Baca Juga :Uji Coba Program Makan Siang Gratis, Tujuh Siswa SDN 1 Banaran Kertosono Diduga Keracunan
Kemarin, korps bhayangkara itu menggelar ekshumasi atau membongkar makam untuk otopsi jenazah MKAA (14).
Ekshumasi itu merupakan rangkaian penyidikan sebelum polisi menetapkan tersangka. Selanjutnya hasil autopsi bakal dibeberkan dalam giat gelar perkara.
“Iya ekshumasi untuk autopsi ini untuk melengkapi berkas perkara. Dan ini hal yang lumrah karena status kasus ini juga sudah masuk penyidikan,” kata Kepala Seksi Humas Polres Blitar Kota, Iptu Samsul Anwar, Jumat (04/10).
Baca Juga :Pj Gubernur Jatim Adhy Ziarah dan Tabur Bunga di Makam Bung Karno Jelang HUT Pemprov Jatim
Giat ekshumasi itu digelar pada pukul 07.30. Rombongan berasal dari RS Bhayangkara Kediri. Dengan menggunakan mobil dobel kabin, tim menuju pemakaman MKAA yang berjarak dari rumah duka sekitar 1 kilometer.
Lokasi makam terletak di bawah lereng Gunung Pegat, di Desa Dadaplangu, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar.
Setidaknya ada lima petugas yang turun. Dengan membawa beberapa koper, petugas berpakaian khusus menuju ke kompleks pemakaman keluarga.
Di lokasi, makam sebagian warga sudah lebih dulu menggali makam yang berhimpitan dengan tembok paling barat itu. Ketika cangkul sudah menyentuh papan di atas jenazah, petugas merangsek ke makam.
Baca Juga :Pjs Bupati Ponorogo Ingatkan Tenaga Honorer Tidak Percaya Calo Seleksi PPPK
Lokasi makam sudah diamankan. Ada setidaknya 50 petugas tampak berjaga-jaga. Berasal dari Polsek Ponggok dan Polres Blitar Kota. Tembok pagar juga sudah dipasangi terpal warna biru keliling. Sementara untuk mengusir panas, dipasangi tenda.
Tak seorang pun diizinkan masuk ke makam kecuali petugas. Bahkan jalan masuk ke makam dipasangi garis polisi atau police line.
“Jangan masuk ya,” kata salah satu petugas. Suasana autopsi berlangsung hening. Sejumlah petugas dari forensik mengenakan masker.
Baca Juga :Kawasan Kuliner Halal Diresmikan, Ini Harapan Pj Gubernur Jatim
Setelah hampir sejam di makam, petugas ke beranjak keluar. Tak sepatah kata pun keluar dari bibir. Petugas mengemasi barang dan masuk ke mobil. “Langsung ke pak kasi humas ya,” kata salah satu petugas.
Kembali ke pernyataan Kepala Seksi Humas Iptu Samsul Anwar, pasca autopsi, petugas menindaklanjuti dengan pemeriksaan. Selanjutnya hasilnya akan dibubuhkan dalam berkas penyidikan.
“Nanti info lebih lanjut akan diberitahu. Yang penting autopsi lancar,” katanya.
Baca Juga :Gara-gara Ban Meletus, Truk Hantam Mobil Grandmax Parkir di Kediri
Seperti diketahui, kekerasan kembali terjadi di wilayah Kabupaten Blitar. Pelajar MTs tewas usai dilempar kayu berpaku dan menancap di kepala.
Informasi yang l dihimpun kejadian bari diketahui sepekan dari kejadian. Polisi pun akhirnya bergerak dengan meminta keterangan sejumlah saksi. Mulai pengurus sekolah, oknum guru hingga keluarga korban. Termasuk rumah sakit yang menangani.
Pelajar yang menjadi korban dugaan kekerasan itu adalah MKAA (14) warga Desa Dadaplangu, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar.
Baca Juga :Ke Blitar, Kaesang Pangarep Ziarah dan Borong Kaus Gambar Bung Karno
Sementara oknum guru adalah MUA, yang sehari-hari mengajar di MTs swasta plus di Desa Bacem, Kecamatan Ponggok. MTs ini adalah sekolah favorit yang dikelola oleh sebuah yayasan.
Dugaan penganiayaan itu berawal pada ketika oknum guru mendapati korban yang masih nongkrong. Padahal saat itu sudah waktunya salat dhuha. Nongkrong itu ada yang main badminton dan lain sebagainya.
Awalnya diminta beranjak tetapi tak direspon. Akhirnya oknum guru emosi. Puncaknya spontan melempar kayu dan mengenai kepala korban. Fatalnya kayunya ada paku.
Baca Juga :Kapolres Trenggalek Sambangi Polisi Korban Tragedi Kerusuhan Kanjuruhan
Begitu mendapati korban tak bergerak, sejumlah siswa lain panik. Oleh guru dan pengurus sekolah dibawa ke RSUD Srengat, Kabupaten Blitar.
Tetapi ternyata karena parah, angkat tangan. Hingga akhirnya beberapa hari kemudian, dirujuk ke RSUD di Kabupaten Kediri. Tetapi ternyata nyawanya sudah tak tertolong.



















