Kediri, SEJAHTERA.CO – KPPN Kediri mencatat kinerja APBN di wilayahnya mengalami kontraksi baik pada sektor pendapatan maupun pada sektor belanja.
Baca Juga :Gadaikan Motor Tetangga, Diringkus Unit Reskrim Polsek Kras, Begini Kejadiannya
Kepala KPPN Kediri, Moch. Izma Nur Choironi, menyampaikan bahwa sektor pendapatan mengalami pertumbuhan negatif sebesar 10,45 persen yang berasal dari pajak dan penerimaan bukan pajak (PNBP).
“Pendapatan hingga akhir Januari total Rp2.189,70 miliar yang terdiri dari perpajakan Rp2.156,76 miliar dan PNBP sebesar Rp32,93 miliar,” kata pria yang akrab disapa Izma para press release ALCo Kediri Raya, Jumat (28/2/2025).
Lebih rinci, angka pendapatan pajak periode ini dibandingkan dengan tahun lalu mengalami penurunan hingga 10,15 persen sementara dari sektor PNBP minus 26,41 persen.
Baca Juga :Hujan Deras Sebabkan Longsor di Kalipang, Batu Padas Besar Tutupi Setengah Jalan
Berdasarkan jumlah pendapatan pajak yang terkumpul hingga akhir bulan Januari ini, KPP Pratama Kediri menyumbang penerimaan sebesar Rp38,13 miliar.
Sementara KPP Pratama Pare dan KPP Pratama Tulungagung masing – masing menyumbang pendapatan pajak sebesar Rp41,23 miliar dan Rp37,04 miliar.
“Untuk dari bea masuk dan cukai pendapatannya sebesar Rp2.052,03 miliar,” ungkapnya.
Baca Juga :Ramadan, Jam Kerja PNS di Pemkot Blitar Ada Diskon 5 Jam Seminggu
KPPN Kediri juga mencatat kinerja APBN dari sektor belanja turut mengalami kontraksi, terutama dari sisi belanja pemerintah pusat.
Sampai dengan akhir Januari 2025, belanja wilayah Kediri Raya telah terealisasi sebesar Rp1.025,32 miliar atau 11,93 persen dari pagu yang mencapai Rp8.595,46 miliar.
Angka belanja yang telah terealisasi ini terdiri dari Belanja Pemerintah Pusat sebesar Rp73,88 miliar dan Transfer ke Daerah sebesar Rp951,43 miliar.
Terakhir, Izma juga menyampaikan, kredit program pembiayaan kepada pelaku usaha tumbuh positif sebesar 1 persen dengan jumlah 7.765 debitur dengan nilai penyaluran sebesar Rp361,47 miliar.



















