Arkhan Kaka, Penggawa Timnas U-17 , Sering Disemprot Pelatih karena Ego dan Main Sendiri

Blitar, SEJAHTERA.CO – Nama Kabupaten Blitar bersinar di ajang Piala Usia 17 atau U-17.  Pasalnya salah satu warganya berkiprah dan masuk penggawa Timnas U 17 Indonesia ketika kontra Panama di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya. Dia adalah Arkhan Kaka, pemain asal Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar.

 

“Dia memang suka sepakbola sejak kecil. Pernah bergabung pula di Mitra Tunas Muda atau MTM. Dan kebetulan di MTM saya yang mengasah kemampuannya. Prestasi ini juga berkat doa warga Blitar” kata Purwanto Suwondo.

Read More

Ya itulah ungkapan kali pertama dari Purwanto Suwondo. Purwanto adalah ayah dari Arkhan Kaka, penyerang di ajang Timnas U-17 Indonesia beberapa waktu lalu.

 

Purwanto pun menjlentrehkan awal mula buah hatinya getol hobi memainkan bola di rumput hijau. Dia bercerita bakatnya mulai terlihat ketika usia 4 tahun dan berlanjut hingga ketika  duduk di bangku  sekolah dasar atau SD. Saat itu dirinya sudah kerap menghiasi bench di sejumlah klub di tanah air. Mulai Persebaya, Persija,  PSBI Blitar, PSBK Kota Blitar dan lain sebagainya.

Ketika berlaga, Arkhan yang saat ini usianya masih di angka 16 tahun itu kerap ikut mendampingi.

 

“Mungkin dari situ ada maunya.  Suka main bola, padahal saat itu masih siswa SD,” kata Purwanto.

Arkhan Kaka dilahirkan pada 2 September 2007 lalu.

Pria berusia 46 tahun ini  menambahkan, bakat anaknya semakin terasah ketika dirinya membentuk sekolah sepakbola atau SSB.

 

SSB itu yakni Mitra Tunas Muda atau MTM yang basecamp-nya saat itu di Talun. Saat itu Kaka, panggilan akrabnya berposisi sebagai penyerang. Saat itu masih duduk di bangku  kelas 5 SD.

Meski berlaga di tim yang dibesut ayahnya, Kaka tetap diperlakukan sama seperti pemain pada umumnya. Bahkan malah kerap disemprot (dimarahi) ketika main berkarakter individu.

“Malah sering saya marahi, karena di lapangan kuncinya kerjasama. Tidak boleh ego dan main sendiri,” kata pria yang kini dipercaya memegang Tim Borneo FC.

 

Berkat kerap digembleng di lapangan itulah membuat Kaka semakin terasah. Ketika berlaga di sejumlah kompetisi tingkat SSB kerap menyumbangkan gol.

Nah, sejak saat itulah bakatnya terasah hingga akhirnya menginjak dewasa. Beberapa tim pun pernah dibelanya. Di antaranya di Bhayangkara FC alias klub milik polisi. Saat itu persaingan untuk menjadi bagian Bhayangkara FC sangat ketat. Ketika seleksi harus benar-benar matang. “Saat itu yang ikut seleksi 1.000 tetapi Kaka lolos dan ikut menyumbangkan 10 gol bagi Bhayangkara FC,” kata pria berperawakan tinggi ini.

 

Selain Bhayangkara FC, sejumlah tim pernah dihinggapinya. Di antaranya bergabung di Persis Solo. Klub ini pula yang menjadi tambatan terakhir hingga masuk dalam list pemain Timnas U-17.

“Meski masih muda lolos seleksi,” kata pria yang mengantongi lisensi pelatih A-AFC ini.

 

Pria kelahiran Lampung ini mengatakan, saat ini targetnya adalah memberikan yang terbaik bagi Indonesia dan Kabupaten Blitar pada khususnya.

Meski kerap berlaga, tak lupa kewajibannya menuntut ilmu di SMAN 4 Blitar. Bahkan ketika berlaga di Timnas U-17, sejumlah teman di SMA ikut memberikan dukungan.

 

“Mudah-mudahan bisa lebih baik lagi,”  harapnya.

Reporter : Abdul Aziz Wahyudi

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *