Tulungagung, SEJAHTERA.CO – Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Tulungagung tengah mengembangkan moda transportasi baru di Tulungagung yakni becak listrik. Hal ini dilakukan sebagai upaya mengurangi emisi yang dihasilkan oleh moda transportasi konvensional.
Baca Juga :Dialog Bersama Warga, Maidi Beberkan IPM yang Terus Naik Selama Kepemimpinannya
Kepala Dishub Kabupaten Tulungagung, Johanes Bagus Kuncoro mengatakan, pihaknya baru saja membuat prototype becak listrik yang rencananya akan menjadi moda transportasi baru di Tulungagung.
Rencana becak listrik jadi moda transportasi baru di Kabupaten Tulungagung ini dilakukan dengan tujuan mengurangi emisi yang dihasilkan dari kendaraan konvensional.
Selain itu, eksistensi becak sendiri saat ini juga sudah mulai tergerus dengan adanya ojek online, sehingga kehadiran becak listrik ini diharapkan bisa mendongkrak kembali eksistensi becak di kota marmer.
Baca Juga :Puting Beliung Rusak 24 Rumah Warga Trenggalek, Tak Ada Korban Jiwa
Namun demikian, nantinya becak listrik ini akan dioperasikan pada sektor-sektor pariwisata di Tulungagung lebih dulu.
“Kemarin kami sempat diskusikan, hasilnya dipilihlah becak listrik ini, karena dari segi tingkat emisi yang cenderung aman, dan becak listrik dinilai lebih murah dari pada becak motor (Bentor),” kata Johanes Bagus Kuncoro, Senin (4/11/2024).
Meski prototype-nya sudah siap, ungkap Bagus, pihaknya masih perlu melakukan uji coba terhadap becak listrik yang sudah selesai dibuat olehnya hasil kerja sama dengan salah satu SMK swasta di Kabupaten Tulungagung. Namun proses uji coba ini masih harus menunggu kesiapan UPTD pengujian kendaraan bermotor (PKB).
Baca Juga :KAI DAOP 7 Madiun Hadirkan Terintegrasi dengan Bandara Adisumarmo Solo
Uji coba itu dilakukan untuk melihat apakah prototype becak listrik itu memang layak untuk digunakan sebagai moda trasnportasi baru di Kabupaten Tulungagung. Namun jika tidak layak, maka pihaknya masih harus melakukan serangkaian perbaikan agar becak listrik itu layak jadi moda trasnportasi.
“Nanti kalau sudah layak dan bisa dipakai untuk moda transportasi, kami uji coba dulu pada kawasan CFD atau kawasan wisata lainnya terlebih dahulu,” ungkapnya.
Terkait pembuatan becak listrik ini, jelas Bagus, anggaran yang digunakan terbilang cukup murah dimana untuk pengadaan satu unit becak saja hanya membutuhkan Rp 400 ribu. Sedangkan untuk merombak becak tersebut menjadi becak listrik secara keseluruhan, total anggaran yang dibutuhkan sekitar Rp 13,6 juta.
Baca Juga :Ribuan Surat Suara Pilkada Tiba, Ketua KPU Kota Batu: Kebutuhan Logistik Hampir 100 Persen
Selain itu, terkait kebutuhan isi ulang daya, pihaknya juga sudah menjalin komunikasi dengan PLN Tulungagung untuk pengadaan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU). Hal ini juga direspon baik oleh pihak PLN Tulungagung yang bersedia untuk menyediakan SPKLU tersebut untuk melayani becak listrik.
“Rencana ini sudah disambut baik oleh pihak PLN Tulungagung yang bersedia menyediakan SPKLU yang rencananya akan dipasang di kantor Dishub Tulungagung,” jelasnya.
Baca Juga :Mulai Bahas APBD 2025, Ketua DPRD Kabupaten Ponorogo: Terus Kita Kebut
Meski masih prototype, Bagus menyebut, jika becak listrik itu diklaim mampu menempuh jarak sejauh 50 kilometer sampai 60 kilometer dari mulai baterai penuh. Sedangkan untuk kecepatannya dibatasi tidak lebih dari 25 kilometer per jam agar becak listrik tersebut memenuhi syarat untuk mengangkut penumpang.
Menurut Bagus, jika hasil uji coba itu nantinya mendapatkan hasil positif, pihaknya berencana untuk memproduksi becak listrik tersebut secara massal sebagai moda trasnportasi baru di Tulungagung. Namun demikian, rencananya becak listrik ini akan mulai digunakan pada tahun 2025 mendatang.
“Dikarenakan saat ini masih sedang musim politik, kemungkinan tahun depan bisa mulai dijadikan moda transportasi umum di Tulungagung. Kapasitas maksimalnya hanya bisa mengangkut dua penumpang saja,” pungkasnya.



















