Dikeluhkan Warga, Bau Busuk Timbul dari Aliran Cabang Sungai Brantas Desa Plosorejo, Kabupaten Kediri, Ini Penyebabnya?

Dikeluhkan Warga, Bau Busuk Timbul dari Aliran Cabang Sungai Brantas Desa Plosorejo, Kabupaten Kediri, Ini Penyebabnya?

Kediri, SEJAHTERA.CO – Berkah dan masalah. Inilah yang terjadi di sepanjang cabang aliran Sungai Brantas, khususnya di wilayah Utara Kabupaten Kediri.

Berkah, karena sejak lima hari ini lalu, aliran Sungai Brantas, tepatnya perbatasan Desa Gampeng dan Desa Grompol, Kecamatan Gapengrejo, Kabupaten Kediri, sedang dibendung.

Otomatis sepanjang aliran Sungai Brantas cabang Desa Grompol Kabupaten Kediri airnya menyusut total hingga tinggal antara sepuluh hingga 20 centimeter saja.

Read More

Dengan menyusutnya air Sungai Brantas ini, menjadikan berkah bagi warga desa di sepanjang aliran sungai, karena bisa mendapatkan ikan dan kijing secara gratis atau mirip seperti pladu.

Ketika hari pertama dibendung, sepanjang aliran Sungai Brantas, mulai dari Desa Grompol, Desa Turus, Dusun Gilang hingga Dusun Sumbertugu banyak yang terjun ke sungai untuk mencari ikan.

Mereka ada yang membawa alat pencari ikan seperti jaring, pecak dan sejenisnya. Ada juga yang mengandalkan tangan kosong alias mengandalkan ketangkasan atau kecerdikannya.

Setelah air Sungai Brantas terus berkurang dan banyak ikan yang tertangkap, warga ganti mencari binatang sungai kijing (seafood)  di sela batu-batu atau lumpur.

Para pencari binatang kijing ini, selain mengandalkan ketangkasan dengan tangan kosong, ada juga yang menggunakan semacam kawat yang dianyam dan dibentuk khusus.

Cara mencari kijing, alat dibenamkan ke batu-batu kecil yang kemudian diangkat ke permukaan air. Setelah itu dipilah, batunya dibuang atau dikembalikan ke Sungai Brantas dan kijingnya dimasukan karung beras.

Mereka yang mengandalkan tangan, satu jam mungkin hanya mendapatkan beberapa kilogram saja. Karena hanya untuk hiburan dan dikonsumsi sendiri.

Namun bagi mereka sudah menjadi profesi sambilan, pencarian bintang kijing dilakukan maksimal, lengkap dengan alat-alatnya.

Perolehan bintang kijingnya juga lumayan. Dalam satu atau dua jam, bisa mendapatkan minimal setengah kuintal atau 50 kilogram. Ada juga yang sampai sekitar satu kuintal.

Hasil jerih payah pencari binatang kijing ini dijual lagi, baik ke pasar maupun ke restoran. “Setiap kilogramnya antara Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu,” kata, salah satu pencari binatang kijing, Suwardi.

Pencarian binatang kijing di Sungai Brantas, kali ini dinilainya berkah, karena tidak ada airnya. “Kalau hari-hari biasa, airnya penuh hingga dada orang dewasa dan sulit untuk mendapat kijing,” katanya.

Kemudian, kata dia, badannya juga harus diikat dengan tali, lalu dikaitkan dengan tembok tepi Sungai Brantas. “Tujuannya agar tidak hanyut. Ya resikonya juga berat,” tambah dia.

Sementara masalahnya, setelah tiga hari Sungai Brantas “dikuras”, bau menyengat mulai menyelimuti warga, utamanya warga Dusun Gilang, Desa Plosorejo, Kecamatan Gampengrejo.

“Ini bau apa ya kok banger (jawa atau bau busuk yang timbul dari air),” kata salah satu warga yang tinggal di dekat jembatan Sungai Brantas Dusun Gilang, Minggu (1/10/2023.

Lalu yang lebih terdampak lagi, pemilik angkringan atau Warung Bakso Pak Eko yang lokasinya di dekat jembatan Dusun Gilang, Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri.

Sampah-sampah yang bermunculan di permukaan Sungai Brantas, karena airnya susut,  diduga menjadi penyebab bau busuk atau banger yang menyengat.

“Sampai kapan saya tidak tahu. Karena juga tidak ada pemberitahuan. Susah kalau begini terus,” kata Mbak Meri, pemilik Warung Bakso Pak Eko.

Karena timbulnya bau tak sedap ini, warga Dusun Gilang berharap segera terselesaikan sehingga tidak mengganggu orang jajan atau andok bakso.

Editor: Gimo Hadiwibowo

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *