Jombang, SEJAHTERA.CO – Kesaksian Kepala Sekolah SDN Jipurapah 2 dan Kepala Dusun Kedungdendeng akhirnya buka suara atas kisah Yogi Susilo, guru di SDN Jipurapah 2 dengan pangkat golongan III/b yang diberhentikan melalui Surat Keputusan Bupati Jombang tertanggal 18 April 2026. Pemberhentian tersebut dikarenakan pelanggaran disiplin, yakni tidak masuk kerja melebihi ketentuan.
Baca juga:Dipecat karena Absensi, Guru di Jombang Ajukan Banding: Klaim Sakit Tak Diperhatikan
Akses menuju sekolah yang berupa jalan bebatuan, tanah tak rata, dan bergelombang memang membutuhkan tenaga ekstra bagi para guru pengajar di SDN Jipurapah 2.
Ditemui awak media, Winarsih selaku Kepala Sekolah SDN Jipurapah 2, Kecamatan Plandaan, Kabupaten Jombang, menjelaskan dugaan ketidakhadiran salah satu guru di sekolahnya sepanjang 2024 hingga 2025 yang berdampak pada keterlambatan proses belajar mengajar. Ia menyebut, yang bersangkutan berstatus Pelaksana Tugas (Plt) hingga Desember 2024, sehingga selama satu semester tidak menjalankan tugasnya.
“Memang benar, selama satu semester itu tidak masuk. Bukti absensinya ada. Guru ini juga diturunkan pangkatnya menjadi III/b saat diberikan sanksi dari dinas karena tidak aktif dari Januari hingga Juni 2025. Kemudian kembali aktif selama dua bulan, Juli dan Agustus, dengan kehadiran penuh dari pukul 07.00 hingga 15.00 WIB,” ungkap Winarsih saat diwawancarai di SDN Jipurapah 2, Selasa (5/5/2026).
Ia melanjutkan, ketidakhadiran kembali terjadi pada September 2025 dan tidak konsisten. Dalam rentang 10 hari, yang bersangkutan hanya masuk satu kali. Bahkan hingga akhir tahun 2025, tidak ada keterangan resmi berupa surat maupun surat dokter.
“Kalau September ada surat sakit, tetapi tidak jelas sakit apa karena hanya disampaikan lewat pesan WhatsApp. Setelah itu tidak ada keterangan sama sekali. Dampaknya sangat besar, terutama bagi siswa kelas satu yang kemampuan membaca dan berhitungnya jadi tertinggal,” jelasnya.
Pihak sekolah kemudian melaporkan kondisi tersebut ke Dinas Pendidikan. Sempat ada wacana mutasi dengan alasan kesehatan, namun pihak sekolah tidak mendapatkan bukti pendukung dari yang bersangkutan.
Winarsih juga menyebutkan bahwa dalam proses pemeriksaan oleh Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM), sejumlah pihak di sekolah telah dimintai keterangan dan mengonfirmasi kondisi tersebut. Ia juga masih menyimpan bukti absensi dan dokumen pendukung lainnya.
“Saya masih menyimpan semua bukti, mulai dari absensi hingga surat dokter, meskipun surat dokternya tidak menyebutkan secara rinci penyakitnya,” pungkasnya.
Diketahui, SDN Jipurapah 2 memiliki 10 tenaga pendidik, termasuk Yogi, terdiri dari enam guru kelas, satu guru PAI, satu operator, satu guru ekstra, dan satu pengurus barang. Jumlah siswa sebanyak 25 orang, dengan tujuh siswa di kelas satu yang sebelumnya diajar oleh Yogi.
Sementara itu, pernyataan berbeda disampaikan oleh Kepala Dusun Kedungdendeng, Desa Jipurapah, Kecamatan Plandaan, Jihan Suprendi (25). Ia yang juga merupakan mantan murid Yogi menyebut sosok gurunya dikenal disiplin dan jarang absen.
“Setahu saya, Pak Yogi itu orangnya baik dan tidak pernah bolos. Dulu saya juga murid beliau, dan tidak pernah ada cerita beliau tidak masuk. Bahkan sebelum jam setengah tujuh sudah datang. Saat hujan pun tetap berangkat, meski kondisi jalan dulu masih rusak,” terangnya.
Ia mengakui sempat tidak melihat Yogi di sekolah selama beberapa waktu saat yang bersangkutan sakit. Namun setelah pulih, Yogi disebut kembali aktif mengajar sejak awal tahun 2026 hingga beberapa waktu terakhir.
Menurut Jihan, Yogi dikenal ramah dan mudah bergaul dengan masyarakat. Bahkan sering berinteraksi dengan warga di sela waktu istirahat.
“Orangnya supel, suka bercanda, dan wali murid juga banyak yang senang. Banyak yang heran, kok orang yang dikenal baik seperti itu bisa kena masalah. Padahal setiap hari terlihat mengajar,” ujarnya.
Ia juga menambahkan, Yogi termasuk guru yang datang lebih awal dan pulang paling akhir dibandingkan guru lainnya.
Baca juga:Persiapan CJH Jombang Rampung, 1.266 Jemaah Siap Berangkat dengan Empat Kloter
“Pak Yogi biasanya pulang paling akhir, bisa sampai sore. Itu yang saya lihat setiap hari. Saya tahu betul beliau, karena saya juga alumninya,” tutup Jihan.



















