Jombang, SEJAHTERA.CO – Dampak kebijakan tarif baru dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump mulai terasa hingga ke desa-desa di Indonesia.
Di wilayah Kabupaten Jombang, para supplier kedelai dan perajin tahu di Desa Sumbermulyo, Kecamatan Jogoroto, harus berjibaku menghadapi kenaikan harga dan terbatasnya pasokan kedelai impor.
Pantauan Rabu (23/4/2025) siang menunjukkan aktivitas produksi tahu di desa tersebut masih berjalan. Asap dari tungku-tungku pembuat tahu masih mengepul, menandakan bahwa roda usaha masih berputar meski tidak semudah biasanya.
Muhammad Alfian Zulkifli, salah satu supplier kedelai impor, mengaku sudah merasakan imbas kebijakan tersebut sejak dua pekan terakhir.
Baca Juga :Beberapa Panti Asuhan Dapat Bantuan Program Yapi, Ini Data di Dinsos Kabupaten Tulungagung
“Setelah Lebaran, kedelai impor mulai sulit didapat. Ada pembatasan, dan harganya naik. Dari Rp 8.500 jadi Rp 9.500 per kilogram. Diduga karena dampak kebijakan tarif baru dari pemerintah AS,” jelasnya.
Kenaikan harga ini tentu memberatkan para perajin tahu, salah satunya Subkhi, warga Desa Mayangan, Jogoroto. Ia memilih menekan margin keuntungan demi mempertahankan loyalitas konsumen.
“Kalau kita kecilkan ukuran tahu atau naikkan harga, bisa-bisa pelanggan kabur. Jadi ya mending untung sedikit, asal usaha tetap jalan,” tuturnya.
Setiap harinya, Subkhi membutuhkan lebih dari satu ton kedelai impor untuk memenuhi permintaan. Bahan baku tersebut diolah melalui berbagai tahapan hingga menjadi tahu kotak yang siap digoreng dan dikonsumsi.
Baca Juga :Lewat Wayang Karton, Polwan Agesti Eka Kenalkan Sosok Kartini ke Anak TK di Kediri
Ia berharap pemerintah turun tangan untuk menstabilkan harga dan memperlancar distribusi kedelai. “Kalau tidak segera diatasi, dampaknya bisa panjang. Kita butuh dukungan agar produksi tetap jalan dan pelanggan tetap terlayani,” pungkasnya.



















