Kisah Marsel, Penjual Polo Pendem Usia 16 Tahun di Babat Lamongan yang Ingin Kembali Sekolah

Ilham Putra Marselino saat berjualan jajanan tradisional Polo Pendem di Kawasan Tugu Wingko Babat Kecamatan Babat Kabupaten Lamongan.
Ilham Putra Marselino saat berjualan jajanan tradisional Polo Pendem di Kawasan Tugu Wingko Babat Kecamatan Babat Kabupaten Lamongan.(suprapto/memo)

Lamongan, SEJAHTERA.CO – Di tengah lalu lalang kendaraan di kawasan Tugu Wingko Babat, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, Ilham Putra Marselino menjalani kehidupan yang tak mudah di usianya yang baru 16 tahun. Demi membantu keluarga yang tengah mengalami kesulitan ekonomi, remaja yang akrab disapa Marsel itu rela meninggalkan bangku sekolah untuk berjualan jajanan tradisional polo pendem.

Baca juga:Geger! Penghuni Kos Asal Bandung Dianiaya Pria Berlinggis di Sukorejo Lamongan: Kepala Korban Sobek Berdarah

Saat teman-teman seusianya masih menuntut ilmu dan merancang masa depan, Marsel justru menghabiskan hari-harinya mencari nafkah. Keputusan berat itu diambil setelah ibunya, Sumarlik, didiagnosis menderita kanker usus beberapa bulan lalu.

Read More

Marsel merupakan warga Desa Karang Kembang, Kecamatan Babat. Ia semestinya masih duduk di kelas XI sekolah menengah kejuruan (SMK). Namun, kondisi ekonomi keluarga yang semakin sulit membuatnya memilih bekerja untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Ya, saya sebetulnya masih ingin sekolah. Cuma karena keadaan ekonomi keluarga kurang dan ibu juga sedang sakit kanker usus, jadi saya memilih untuk bekerja dulu. Uangnya bisa buat hidup keluarga,” kata Marsel saat ditemui di tempatnya berjualan, Sabtu (17/10/2026) malam.

Bagi Marsel, berjualan polo pendem bukan sekadar pekerjaan untuk mendapatkan uang saku. Setiap rupiah yang diperolehnya menjadi harapan agar keluarganya tetap bertahan di tengah himpitan kebutuhan hidup dan biaya pengobatan sang ibu.

Setiap hari, Marsel menjajakan polo pendem milik orang lain di sekitar pertigaan Tugu Wingko Babat. Dari pekerjaan tersebut, ia memperoleh penghasilan sekitar Rp35 ribu hingga Rp40 ribu per hari.

Uang hasil berjualan itu dikumpulkannya selama sebulan sebelum diserahkan kepada ibunya untuk membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Meski bekerja setiap hari, penghasilan Marsel belum mampu menutup seluruh kebutuhan keluarga. Dalam kondisi tertentu, mereka masih harus meminta bantuan saudara, termasuk untuk memenuhi kebutuhan pangan dan membayar tagihan listrik.

“Sehari-hari terkadang saya harus meminta beras ke kakak untuk kebutuhan harian. Untuk membayar tagihan listrik agar rumah tetap mendapat penerangan, masih kerap dibantu saudara,” ujar Marsel.

Ayah kandung Marsel telah lama meninggal dunia. Kini, ia tinggal bersama ibunya dan ayah sambungnya yang bekerja sebagai sopir lepas.

Penghasilan ayah sambungnya juga tidak menentu, berkisar Rp50 ribu hingga Rp75 ribu per hari. Pendapatan tersebut harus digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, sementara Sumarlik masih membutuhkan perhatian dan pengobatan rutin.

Dalam situasi itu, Marsel memilih turun langsung membantu mencari nafkah. Ia bahkan meninggalkan sekolah tanpa sempat mengurus cuti maupun pengunduran diri secara resmi.

Penyakit yang diderita Sumarlik menjadi titik balik kehidupan keluarga tersebut. Perempuan yang sebelumnya aktif bekerja itu kini lebih banyak terbaring di rumah karena kondisi kesehatannya terus menurun.

Setiap dua minggu sekali, Sumarlik harus menjalani kontrol ke rumah sakit. Selama ini, ia menggunakan BPJS Kesehatan mandiri yang iurannya harus dibayarkan setiap bulan.

Di tengah penghasilan keluarga yang terbatas, biaya pengobatan dan kebutuhan rutin lainnya menjadi beban tersendiri. Karena itu, kepastian akses terhadap layanan kesehatan menjadi salah satu harapan keluarga tersebut.

Saat ditemui di rumahnya, Sumarlik mengungkapkan bahwa dirinya memiliki Kartu Indonesia Sehat (KIS) dan Kartu Indonesia Pintar (KIP). Namun, menurut pengakuannya, kedua kartu tersebut sudah lama tidak aktif.

“Saya mempunyai Kartu Indonesia Sehat (KIS) dan Kartu Indonesia Pintar (KIP), tapi sudah lama tidak aktif,” ungkap Sumarlik.

Ia berharap status kepesertaan KIS dapat kembali aktif agar dirinya lebih mudah mengakses layanan pengobatan sesuai ketentuan yang berlaku.

Di tengah perjuangannya melawan penyakit, Sumarlik juga menyimpan keinginan besar agar anaknya bisa kembali bersekolah. Ia berharap Marsel dapat melanjutkan pendidikan dan meraih masa depan yang lebih baik tanpa harus terus mengesampingkan kebutuhan belajarnya demi membantu keluarga.

Meski kini harus bekerja di jalanan, Marsel mengaku belum mengubur cita-citanya untuk kembali belajar. Ia masih ingin mengenakan seragam sekolah, bertemu teman-teman sebaya, dan menyelesaikan pendidikan yang sempat terhenti.

Harapan itu semakin tumbuh setelah melihat temannya, Reno, yang juga berjualan polo pendem dan disebut telah mendapatkan beasiswa sehingga bisa kembali bersekolah.

Pengalaman Reno menjadi penyemangat bagi Marsel. Ia berharap memperoleh kesempatan serupa agar dapat kembali menempuh pendidikan tanpa mengabaikan kondisi ibunya yang membutuhkan perhatian.

Bagi remaja seusianya, sekolah semestinya menjadi tempat menimba ilmu dan mempersiapkan masa depan. Namun, bagi Marsel, perjuangan itu untuk sementara harus dijalani di antara gerobak dagangan, jajanan tradisional, dan kendaraan yang terus berlalu-lalang di kawasan Tugu Wingko Babat.

Ia tidak meminta kehidupan yang berlebihan. Marsel hanya ingin keluarganya tetap bertahan, ibunya mendapatkan pengobatan yang layak, dan dirinya kembali memiliki kesempatan untuk belajar.

Kisah Marsel menggambarkan persoalan ekonomi dan keluarga yang dapat membuat seorang anak terpaksa meninggalkan bangku sekolah. Kondisi seperti ini membutuhkan perhatian agar anak tetap memiliki kesempatan memperoleh pendidikan, meski keluarganya tengah menghadapi kesulitan.

Penelusuran status kepesertaan bantuan kesehatan, dukungan terhadap pengobatan sang ibu, serta akses terhadap program bantuan pendidikan yang sesuai dapat menjadi langkah awal untuk membantu keluarga tersebut.

Baca juga:Dipicu Masalah Kaos Kaki, Oknum TNI Diduga Aniaya Kepala Sekolah MI di Glagah Lamongan Hingga Babak Belur

Kini, Marsel masih menjalani hari-harinya dengan berjualan polo pendem di kawasan Tugu Wingko Babat. Di tengah segala keterbatasan, ia tetap menyimpan harapan sederhana: ibunya lekas membaik, beban keluarga berkurang, dan suatu hari nanti dirinya bisa kembali duduk di bangku sekolah.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *