Kisah Penelusuran Jejak Lahirnya Sang Proklamator di Tanah Jombang

Kisah Penelusuran Jejak Lahirnya Sang Proklamator di Tanah Jombang
Cak Arif dengan Ketua Yayasan Pendidikan Soekarno yang juga cucu Bung Karno, M. Marhaendra Putra, tahun 2024 lalu. (Foto : Cak Arif untuk Koran Memo)

Jombang, SEJAHTERA.CO –  Sebuah rahasia sejarah yang terkubur selama puluhan tahun di belantara Ploso, Jombang, perlahan mulai tersingkap.

Adalah Arif Yulianto, atau yang akrab disapa Cak Arif, sosok pemerhati sejarah yang menghabiskan hampir satu dekade waktunya untuk merajut kepingan puzzle kelahiran Presiden pertama RI, Ir. Soekarno.

Perjalanan spiritual dan intelektual ini membawa narasi baru, bahwa Sang Fajar tidak hanya terbit dari Surabaya, melainkan memiliki akar kuat di wilayah Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, pada 6 Juni 1902.

Read More

Cak Arif mengisahkan, pengembaraan ini bermula dari pertemuannya dengan peneliti sejarah Panji, almarhum Semar Suwito, di Banjarnegara pada 2015 silam.

“Setelah kenal dengan Pak Semar, kami sering kontak-kontak lewat telepon seluler. Dan sekitar tahun 2016, beliau mengajak saya ke Ndalem Pojok Wates Kediri untuk melihat acara budaya,” kenang Cak Arif, kepada Koran Memo, Minggu (8/3/2026).

Baca Juga Modus Tawarkan Jasa Registrasi Ulang Kendaraan, Pria Asal Blitar Diringkus Satreskrim Polres Tulungagung

Gerbang sejarah semakin terbuka lebar saat ia mulai menapakkan kaki di Situs Persada Soekarno Kediri.

“Beliaulah yang mengenalkan saya dengan Ndalem Pojok,” tegasnya. Bahkan, Cak Arif mendapatkan kehormatan langka untuk menyelami aura sang proklamator lebih dekat,” ungkapnya.

“Beberapa kali saya dipersilahkan tidur di kamar Bung Karno remaja oleh keluarga Ndalem Pojok,” sambungnya.

Eksplorasi Cak Arif tak berhenti di ruang diskusi. Pada 2019, ia mulai berani mempublikasikan temuan-temuannya meski sumber saat itu masih sangat terbatas.

“Kalau tidak salah, narasumbernya Mas Kushartono dan Mas Dian Sukarno,” ujarnya.

Penelusuran ini pun berbuah temuan-temuan emosional, mulai dari makam Mbok Suwi—pengasuh masa kecil Bung Karno—hingga sosok misterius Kek Suro yang menjadi saksi kunci kelahiran Putra Sang Fajar.

Baca Juga Petugas Gabungan Razia Tempat Hiburan Malam di Barat Sungai

“Gus Binhad dan keluarga Situs Persada Soekarno Kediri juga banyak melakukan penelusuran, kemudian menemukan makam Mbok Suwi, orang yang mengasuh Bung Karno kecil berikut keluarganya. Mereka juga menemukan makam Mbah Joyodipo, teman masa kecil Bung Karno di Ploso,” urai Cak Arif.

Klimaks dari pencarian sosok saksi kelahiran itu terjadi di wilayah Kabuh, Jombang. “Jadi ketika foto Kek Suro ini ketemu, seolah menjawab misteri itu,” tuturnya.

Dedikasi Cak Arif naik ke level formal saat ia bergabung dalam Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Jombang. Ia bergerak lincah mendaftarkan narasi sejarah ini ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan agar memiliki payung hukum yang kuat.

“Secara resmi TACB Kabupaten Jombang pada tahun 2024 melakukan kajian. Kami juga sudah keliling untuk menemui keluarga Bung Karno yang ada di Blitar, Kediri, Bali, dan Jakarta,” rincinya mengenai proses verifikasi lapangan.

Hasilnya pun berbuah manis. “Dan akhirnya pada sekitar September 2024, TACB Kabupaten Jombang mengeluarkan kajian dan rekomendasi penetapan Situs Kelahiran Bung Karno di Ploso, Jombang menjadi cagar budaya peringkat kabupaten,” tandas Cak Arif.

Baca Juga Normalisasi Sekaligus Bersihkan Sampah yang Hambat Aliran Sungai

Kini, bola sejarah telah bergulir hingga ke meja Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, dan mantan Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa. Harapannya hanya satu: sebuah pelurusan sejarah yang diakui negara secara total.

“Sehingga Situs Kelahiran Bung Karno di Ploso, Jombang dapat ditetapkan menjadi cagar budaya. Dan juga terjadi pelurusan sejarah tentang tempat dan waktu kelahiran Sang Proklamator secara terstruktur, sistematis, dan masif,” pungkas Cak Arif menutup perbincangan.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *