Nobar Film “Pesta Babi” di Jombang, Aktivis Soroti Ketimpangan dan Realitas Papua

Aktivis anak muda sedang nonton bareng film 'Pesta Babi'.
Para aktivis anak muda sedang nonton bareng film 'Pesta Babi' di salah satu cafe di Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Minggu (3/5/2026) kemarin malam. (foto: istimewa)

Jombang, SEJAHTERA.CO – Kegiatan yang diinisiasi oleh Aktivis Peneleh Regional Jombang bersama sejumlah organisasi mahasiswa ini dihadiri tidak hanya oleh aktivis dan mahasiswa, tetapi juga warga desa dan tokoh agama yang tampak antusias sepanjang pemutaran nonton bareng sebuah film dokumenter berjudul “Pesta Babi” di salah satu kafe di Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Minggu (3/5/2026) malam.

Baca juga:Dipecat karena Absensi, Guru di Jombang Ajukan Banding: Klaim Sakit Tak Diperhatikan

Dalam pemutaran film ini, para peserta yang datang dapat melihat kondisi di wilayah timur Indonesia, khususnya Pulau Papua, yang kerap berbeda jauh baik dari segi tradisi maupun kehidupan sosial, termasuk dalam aspek pembangunan dan keadilan sosial.

Read More

Film “Pesta Babi” sendiri mengangkat kehidupan masyarakat Papua, terutama terkait tradisi, relasi dengan alam, serta dampak kebijakan pembangunan seperti pembukaan lahan skala besar.

Sekretaris Jenderal Aktivis Peneleh, Ibnu Syifa, menilai film tersebut membuka banyak sudut pandang baru, terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah dengan kondisi relatif lebih nyaman.

“Kita yang berdomisili di Jawa sering kali tidak merasakan langsung kondisi seperti di Papua yang tergambar dalam film tersebut. Film ini menunjukkan realitas yang berbeda dan menggugah,” ungkap Ibnu usai nobar.

Ibnu juga menyoroti isu pembukaan lahan yang dinilai belum sepenuhnya mempertimbangkan hak kedaulatan masyarakat lokal. Menurutnya, kebijakan negara dalam pengelolaan sumber daya cenderung diseragamkan, termasuk dalam program swasembada pangan, tanpa memperhatikan keberagaman pangan lokal seperti sagu dan sejenisnya.

Ia menambahkan, tradisi pesta babi yang ditampilkan dalam film memiliki makna ekologis dan sosial yang kuat. Tradisi tersebut dilakukan sekitar sepuluh tahun sekali, dengan melepas babi ke hutan sejak kecil lalu diburu bersama sebagai bentuk keseimbangan antara manusia dan alam.

Sementara itu, Pjs Ketua HMI Cabang Jombang, Daud Alfurqon, menilai fenomena ketidakadilan seperti yang tergambar dalam film berpotensi terus berulang. Ia menilai perjuangan masyarakat kecil yang berani bersuara menjadi refleksi penting bagi generasi muda.

“Kegiatan ini diharapkan tidak hanya menjadi ruang apresiasi film, tetapi juga wadah untuk memperkuat kesadaran sosial dan kepedulian terhadap isu-isu kemanusiaan,” terangnya.

Ketua PC PMII Jombang, Suhalif Hosaini, juga menilai persoalan di Papua tidak bisa dilepaskan dari akar sejarah panjang yang berdampak hingga saat ini. Ia menyoroti ketimpangan dalam sektor pendidikan dan pengelolaan sumber daya alam.

Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai tanggapan dari peserta. Pada kesempatan tersebut, peserta juga diajak untuk lebih peduli terhadap situasi di Papua melalui saluran donasi bagi masyarakat setempat.

Suhalif menegaskan bahwa kekayaan alam Papua yang melimpah belum sepenuhnya memberikan manfaat bagi masyarakat lokal. Ia menekankan pentingnya kebijakan yang lebih berpihak serta menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian lingkungan.

Baca juga:Dipecat karena Absensi, Guru di Jombang Ajukan Banding: Klaim Sakit Tak Diperhatikan

“Film ini menggugat keaktifan kita sebagai mahasiswa dan masyarakat. Ada tanggung jawab moral untuk lebih peduli terhadap persoalan yang terjadi,” pungkasnya.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *