Perankan Dewi Kilisuci di Gunung Kelud, Retnowati Jalani Puasa dan Tirakat demi Jaga Kesakralan Adat

Perankan Dewi Kilisuci di Gunung Kelud, Retnowati Jalani Puasa dan Tirakat demi Jaga Kesakralan Adat
Retnowati pemeran Dewi Kilisuci di Larung Sesaji Gunung Kelud Minggu pagi (bakti/sejahtera.co)

Kediri, SEJAHTERA.CO – Di balik sorot kamera dan kerumunan pengunjung yang mengabadikan setiap langkahnya, Retnowati tetap tenang.

Ia melangkah anggun di panggung prosesi Larung Sesaji Gunung Kelud, mengenakan busana adat yang menyiratkan kemegahan masa lalu. Tapi bagi gadis 18 tahun ini, peran Dewi Kilisuci bukan sekadar pertunjukan budaya—melainkan amanah yang harus dijalani dengan hati, tirakat, dan rasa hormat mendalam.

Retno, begitu ia disapa, bukan orang sembarangan di kalangan masyarakat adat Ngancar. Ia adalah putri kedua dari Mbah Ronggo, tokoh spiritual sekaligus sesepuh adat yang disegani. Pemilihannya sebagai peran sentral dalam prosesi adat tahun ini pun bukan semata karena garis keturunan.

Read More

Ada pertimbangan batin dan spiritual yang dilakukan para tokoh adat sebelum akhirnya menunjuknya sebagai jelmaan Dewi Kilisuci 2025.

Baca Juga :Liburan Sekolah, Diisi dengan Kegiatan Latihan Dramatari di Ngadiluwih Kediri

“Tidak bisa asal pilih,” ungkap salah satu tokoh adat saat ditemui di sela-sela persiapan. “Harus yang mampu menjaga sikap, punya aura, dan benar-benar siap secara lahir batin.”

Sebagai mahasiswi semester dua di Jurusan Perpajakan Universitas Airlangga Surabaya, Retno memang terbiasa dengan rutinitas akademik.

Tapi menjelang Larung Sesaji, dunianya sementara berubah. Ia menjauh sejenak dari hiruk pikuk kampus dan menyelami kembali akar spiritual desanya.

“Saya puasa Senin dan Kamis, lalu beberapa hari berturut-turut sebelum tampil,” ujar Retno saat ditemui di kediamannya, Jumat (4/7/2025).

“Bukan karena disuruh, tapi karena saya ingin benar-benar menghormati peran ini. Dewi Kilisuci bukan tokoh biasa,” imbuhnya.

Baca Juga :Tiga Terdakwa Kasus Pemerkosaan dan Pembunuhan Siswi SMA di Jombang Terancam Hukuman Mati

Tirakat itu, katanya, bukan sekadar ritual batin. Ia juga belajar dari para pendahulu yang pernah membawakan karakter sang ratu. Dari mereka, ia tahu bahwa sosok Dewi Kilisuci harus mampu memancarkan kewibawaan, kesabaran, dan kedamaian.

“Penonton harus bisa merasakan auranya, bukan hanya melihat busananya. Itu yang saya pelajari,” lanjutnya.

Prosesi Larung Sesaji Gunung Kelud sendiri bukan sekadar perayaan tahunan. Ini adalah ritual warisan yang sudah berlangsung sejak zaman leluhur, sebagai wujud syukur sekaligus permohonan keselamatan dari masyarakat sekitar gunung yang masih aktif tersebut.

Dalam prosesi ini, tokoh Dewi Kilisuci menjadi simbol kesucian, pemimpin spiritual, dan penjaga keseimbangan alam.

Baca Juga :Perempuan Tanpa Identitas Ditemukan Meninggal di Sungai Brantas Tulungagung, Polisi Lakukan Identifikasi

Kehadiran Retnowati sebagai pemeran utama dalam ritual tersebut pun memberi warna baru. Banyak pengunjung, baik warga lokal maupun wisatawan luar daerah, mengaku terkesan dengan pembawaannya.

“Beda. Seperti benar-benar melihat sosok ratu yang turun dari kerajaan. Kalem, tapi kharismatik,” ujar salah satu pengunjung yang datang dari Blitar.

Di tengah modernitas yang terus bergerak cepat, Retno membuktikan bahwa generasi muda pun bisa ikut menjaga nyala tradisi. Ia tidak hanya tampil di atas panggung budaya, tapi juga menjalani nilai-nilainya.

Baca Juga :Mantan Kadispenda Lamongan Diperiksa KPK Terkait Dugaan Korupsi Gedung Pemkab Lamongan Lantai 7

“Saya percaya, kalau kita melakukannya dengan hati, tradisi tidak akan punah. Dia hanya perlu dijaga, dan itu tugas kita,” tutup Retno, dengan senyum tenang dan sorot mata yang lebih dewasa dari usianya

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *