Jombang, SEJAHTERA.CO – KH Hasyim Asy’ari dikenal sebagai seorang ulama besar, pendiri Nahdlatul Ulama (NU), sekaligus Pahlawan Nasional.
Selain perannya dalam dunia keislaman dan perjuangan kemerdekaan, KH Hasyim Asy’ari juga meninggalkan banyak karya tulis dalam bentuk kitab yang hingga kini masih tersimpan rapi dan dimanfaatkan di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang.
Salah satu tempat yang menyimpan koleksi kitab karangan KH Hasyim Asy’ari adalah perpustakaan khusus di lingkungan Pondok Pesantren Tebuireng. Di bulan Ramadan, perpustakaan ini kerap dikunjungi para santri yang ingin memperdalam ilmu agama melalui kitab-kitab karyanya.
KH Fahmi Amrullah Hadziq, Pengasuh Pondok Putri Tebuireng Jombang, mengungkapkan bahwa setidaknya terdapat sekitar 20 kitab karangan KH Hasyim Asy’ari yang masih tersimpan dengan baik.
Salah satu yang sering digunakan untuk kajian Ramadan adalah At-Tibyan, sebuah kitab yang membahas pentingnya silaturahmi serta bahaya memutuskannya.
“Kitab ini sering digunakan dalam ngaji kilatan di bulan Ramadan. Harapan kami, para santri bisa meneladani ilmu yang telah mereka pelajari dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari,” ujar KH Fahmi Amrullah Hadziq, Rabu (5/3/2025).
Para santri memanfaatkan kitab-kitab tersebut untuk mendalami pemahaman agama melalui metode ngaji kilatan, sebuah tradisi belajar kitab kuning yang berlangsung intensif selama bulan Ramadan.
Selain At-Tibyan, masih banyak kitab lain yang menjadi rujukan dalam pembelajaran di pesantren ini. Tradisi menjaga dan menghidupkan kembali karya-karya ulama terdahulu menjadi bagian dari upaya mempertahankan warisan intelektual Islam di Nusantara.
Pondok Pesantren Tebuireng, yang didirikan langsung oleh KH Hasyim Asy’ari, tidak hanya menjadi pusat pendidikan Islam tetapi juga penjaga khazanah ilmu yang diwariskannya.
Dengan adanya perpustakaan khusus ini, diharapkan generasi muda semakin mengenal dan memahami ajaran para ulama terdahulu.



















