Jombang, SEJAHTERA.CO – Mukminin (62), seorang peternak asal Dusun Karangpakis, Desa Tanggungan, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang tak dapat menyembunyikan rasa syukurnya saat melihat sapi-sapinya kembali sehat dari PMK.
Baca Juga :Stadion Batoro Katong Ponorogo Kembali Ditunjuk jadi Tuan Rumah Babak 32 Liga 4 Zona Jawa Timur
Dua minggu lalu, wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) menyerang ternaknya. Awalnya hanya satu sapi yang terlihat pincang dan kehilangan nafsu makan, tetapi dalam beberapa hari, penyakit itu menyebar ke sapi lainnya.
“Awalnya satu sapi saya pincang dan tidak mau makan. Lama-lama penyakitnya menular ke sapi yang lain,” ujar Mukminin, Kamis (16/1/2025).
Mukminin segera menghubungi Pembina Kelompok Ternak Lembu Sejahtera, Ahmad Dimyati, dan petugas kesehatan hewan untuk mencari bantuan. Berbagai langkah cepat dilakukan.
Baca Juga :Pj Walikota Batu Bagikan Susu Sehat Nandhi Murni Gratis ke Siswa
“Kami diberikan vitamin B dan antibiotik. Setiap hari kandang disemprot disinfektan untuk mencegah penyebaran penyakit,” jelas Mukminin.
Setelah perawatan intensif, sapinya kini mulai pulih. “Alhamdulillah sekarang sudah bisa makan dan minum dengan baik. Ini membuat saya lebih lega,” tambahnya.
Hal serupa dialami Ahmad Khusairi (45), peternak lain dari kelompok yang sama. Tiga sapinya terinfeksi PMK dengan gejala demam, keluarnya air liur berlebihan, serta nafsu makan yang menurun drastis.
Baca Juga :Minimarket Berjejaring Semakin Menjamur, Komisi II DPRD Kota Blitar: Diduga Mengelabui Aturan
“Kondisi sapi saya awalnya parah. Tapi setelah diberikan vitamin dan suplemen, Alhamdulillah sekarang kondisinya mulai membaik,” katanya.
Ahmad Dimyati, Pembina Kelompok Lembu Sejahtera, mengatakan wabah PMK kali ini menjadi tantangan besar bagi para peternak. Namun, ia optimistis penyakit ini bisa dikendalikan dengan upaya bersama.
“Kami fokus menjaga kebersihan kandang dan memberikan vitamin secara rutin. Untuk ternak yang sakit, kami berikan pereda nyeri dan suplemen agar nafsu makannya meningkat,” ujarnya.
Baca Juga :Minimarket Berjejaring Semakin Menjamur, Komisi II DPRD Kota Blitar: Diduga Mengelabui Aturan
Meski vaksin dari dinas peternakan belum tersedia, kelompok ini tidak tinggal diam. “Kami melakukan vaksinasi mandiri sambil memberikan minuman tradisional seperti empon-empon untuk memperkuat daya tahan tubuh ternak,” tambah Dimyati.
Ia menekankan pentingnya semangat dan kebersamaan dalam menghadapi wabah ini. “Kalau ternak mau makan, insya Allah PMK bisa dikendalikan. Kami tidak akan menyerah demi kesehatan ternak dan keberlangsungan usaha peternakan kami,” tegasnya.
Baca Juga :Virus HMPV Belum Terdeteksi di Kediri, ini Pesan Dinas Kesehatan
PMK yang menyerang ternak di Desa Tanggungan tidak hanya menjadi ujian bagi kesehatan ternak, tetapi juga bagi keberlangsungan ekonomi para peternak. Mukminin, yang menggantungkan hidupnya dari beternak, berharap wabah ini segera berlalu.
“Kalau sapinya sehat, kami bisa bekerja dengan tenang. Tapi kalau sapinya sakit, ya kami ikut bingung,” katanya.
Mukminin berharap pemerintah daerah dapat memberikan bantuan lebih, terutama ketersediaan vaksin yang hingga kini belum mereka dapatkan.
Baca Juga :Jelang Ditutup, Pendaftar PPPK Gelombang 2 Kota Blitar Tembus Ratusan
Dengan semangat gotong royong, kelompok ternak Lembu Sejahtera terus berupaya menjaga kesehatan ternak mereka. “Kami berjuang bersama. Kalau ada masalah, kami selesaikan bersama,” pungkas Dimyati.
Di tengah tantangan wabah PMK, kerja keras dan kolaborasi menjadi kunci bagi para peternak Gudo untuk melindungi ternak mereka, sekaligus menjaga harapan untuk masa depan yang lebih baik.



















