Sebelum Longsor di Wonosalam Jombang, Warga Menolak Relokasi Meski Sudah Diperingatkan

Sebelum Longsor di Wonosalam Jombang, Warga Menolak Relokasi Meski Sudah Diperingatkan
Kondisi longsor Dusun Banturejo, Desa Sambirejo, Kecamatan Wonosalam. (istimewa)

Jombang, SEJAHTERA.CO – Bencana tanah longsor melanda Dusun Banturejo, Desa Sambirejo, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, pada Kamis (23/1/2025).

Longsor menimbun empat rumah dan menyebabkan dua orang hilang, salah satunya sudah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Tanah longsor terjadi akibat hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut sejak Rabu malam hingga Kamis dini hari.

Baca Juga :Pemdes Sidorejo Gencarkan Fogging Cegah Penyebaran DBD

Read More

Sebelum bencana terjadi, Pemerintah Desa Sambirejo sebenarnya telah berulang kali memperingatkan warga yang tinggal di area rawan longsor untuk pindah.

Kepala Desa Sambirejo, Sungkono, menyebut bahwa pihaknya telah mengupayakan relokasi warga sejak tahun lalu. Namun, dari 12 rumah yang berada di bawah tebing rawan longsor, hanya dua keluarga yang bersedia direlokasi.

“Hanya dua orang, Pak Gunadi dan Bu Sri Utami, yang mau pindah. Sisanya menolak, meski sudah kami beri peringatan dan bahkan surat pernyataan,” ungkap Sungkono, Jumat (24/1/2025).

Baca Juga :Menang Tipis 2-1 Derby Kediri, Inter Kediri Melaju 16 Besar Liga 4 Jatim

Pemdes Sambirejo telah menawarkan relokasi ke wilayah utara, tepatnya di Sumberamong, dan mendaftarkan seluruh warga untuk program tersebut. Namun, mayoritas warga tetap bersikeras tinggal di lokasi rawan dengan alasan beragam, termasuk menyerahkan keselamatan kepada Tuhan.

“Warga menolak dengan berbagai alasan. Kami sudah jelaskan bahaya keretakan tebing yang bisa menyebabkan longsor, tapi mereka memilih bertahan. Bahkan, korban yang masih hilang juga termasuk yang menolak relokasi,” tambahnya.

Baca Juga :ODGJ Ikat Anak di Depan Ruko Kosong, Dinkes Kabupaten Tulungagung Evakuasi ke RSJ Lawang

Keretakan pada tebing diketahui sudah terlihat sejak tahun lalu, dengan panjang mencapai 150 sentimeter.

Pemdes Sambirejo telah berusaha memberikan informasi dan imbauan kepada warga setiap minggu, terutama saat hujan deras melanda, agar mengungsi ke rumah keluarga terdekat.

Namun, upaya tersebut tidak diindahkan oleh sebagian besar warga.

“Sejak retakan terlihat, kami terus mengingatkan warga. Bahkan, saat hujan deras, kami sarankan untuk tidak tinggal di rumah, tapi banyak yang tidak mau meninggalkan rumah mereka,” jelas Sungkono.

Baca Juga :Angka Kesembuhan PMK di Ponorogo 30 Persen, Dipertahankan Genjot Vaksinasi Zona Hijau

Longsor yang terjadi pada Kamis pagi ini mengakibatkan empat rumah tertimbun material tanah dan dua orang hilang.

Satu korban bernama Duwi Ayu Wandira (9) telah ditemukan meninggal dunia, sementara ayahnya, Ducha Ismail (56), masih dalam pencarian.

“Kami berharap ini menjadi pembelajaran, agar warga yang tinggal di zona rawan mau mengikuti program relokasi untuk keselamatan mereka,” pungkas Sungkono.

Baca Juga :Tergerus Air Hujan, Tanggul Kali Bakung Tarokan Ambrol

Bencana ini menambah daftar panjang dampak serius hujan deras di wilayah pegunungan Wonosalam. Pemdes Sambirejo dan tim terkait kini fokus pada penanganan serta evakuasi korban longsor di lokasi tersebut.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *