Batu, SEJAHTERA.CO – Cuaca dengan intensitas hujan deras mengakibatkan bencana dimana-mana, tak terkecuali di Kota Batu. Hampir setiap hari dilaporkan adanya pohon tumbang dan longsor di wilayah Kota Apel ini.
Bahkan informasi terbaru adanya tanah gerak di Dusun Brau Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu kembali mengalami retakan tanah dan tembok setiap musim penghujan.
Hal ini bahkan bisa dianggap telah menjadi langganan untuk warga sekitar karena telah terjadi setiap tahunnya.
Kepala BPBD Kota Batu, Agung Sedayu membeberkan penyebab terjadinya keretakan tanah tersebut sama seperti tahun-tahun sebelumnya yakni akibat dari kondisi tanah di kawasan itu jenuh air.
Karena hampir setiap hari diguyur hujan dengan intensitas tinggi. Hingga menyebabkan tanah yang ada di lembah Gunung Banyak itu bergerak dan menimbulkan retakan.
“Jadi sejumlah lahan persawahan mengalami retak, serta beberapa ruas tembok SD dan SMP Satu Atap Brau mengalami retakan. Selain itu juga menyebabkan 10 rumah warga mengalami retakan di bagian tembok,” ungkapnya, Senin (18/03).
Lebih lnjut, besaran retakan yang terjadi di tembok warga itu rata-rata sekitar 10 sampai 18 centimeter serta menyebabkan sejumlah ruas jalan ambles sekitar 20 hingga 30 centimeter.
Sedangkan untuk 10 rumah warga yang mengalami retakan itu diantaranya adalah rumah milik Sugiari, Ngarpai, Suparno, Mas’ud, Nurcahyo, Sukadi, Janib, Janip, Suliyan dan Isrofi.
“Untuk jalan yang ambles 20 hingga 30 centimeter, merupakan jalan desa yang sudah di aspal. Sebagai upaya awal penanganan bencana alam tanah gerak, pihak kami telah melakukan kaji cepat dan koordinasi dengan pihak-pihak terkait kemudian bersama dengan warga, dilakukan penutupan sementara jalan aspal yang retak,” imbuhnya.
Ia juga membeberkan hasil dari kaji cepat, BPBD Kota Batu merekomendasikan untuk dilakukan relokasi area bangunan yang terdampak.
Selain itu juga melakukan alih fungsi kawasan menjadi daerah konservasi tangkapan air, dan kemudian melakukan rekayasa teknis penguatan struktur tanah agar pemanfaatan kawasan dengan melibatkan peneliti civitas akademi.
Perlu diketahui, berdasarkan hasil kajian yang telah dilakukan sebelumnya kawasan tersebut sudah tidak aman lagi untuk ditempati warga dan terjadi pada 2021 lalu. Bahkan EWS berbunyi hingga 17 kali dalam sehari.
Dari hal itu, akhirnya 16 KK di dusun tersebut diungsikan ke tenda darurat dan kediaman sanak saudara. Bahkan saat itu, Pemkot Batu membuatkan hunian sementara (huntara) untuk 16 KK terdampak. Selain itu juga akan membuatkan hunian tetap (huntap) di lokasi yang lebih aman.
Namun setelah tiga tahun berlalu, rencana pembuatan hunian tetap (huntap) untuk warga terdampak belum juga terealisasi karena berbagai persoalan. Seperti warga tidak mau dipindahkan ke lokasi yang jauh dari kediaman mereka saat ini, dan juga sulitnya Pemkot Batu mencari lahan yang aman di kawasan yang sama.
Reporter : Arief Juli Prabowo
Editor : Gimo Hadiwibowo



















