Storyteller for the Earth, Kolaborasi Pendongeng Indonesia-Inggris Angkat Isu Krisis Iklim Lewat Cerita Rakyat

Pertunjukan Rona Mentari, pendongeng sekaligus pendiri Rumah Dongeng Mentari, dan Roi Galor, storyteller internasional serta salah satu pendiri International School of Storytelling di Inggris.
Pertunjukan Rona Mentari, pendongeng sekaligus pendiri Rumah Dongeng Mentari, dan Roi Galor, storyteller internasional serta salah satu pendiri International School of Storytelling di Inggris.(foto: istimewa)

Yogyakarta, SEJAHTERA.CO – Pertunjukan mendongeng Storyteller for the Earth: Folktales for the Living Earth, proyek kolaborasi seni lintas budaya yang mempertemukan pendongeng asal Indonesia dan Inggris, sukses digelar di Yogyakarta, Sabtu (4/7/2026). Kegiatan ini menjadi upaya kreatif untuk merespons krisis iklim global sekaligus membangun kembali hubungan harmonis antara manusia dan alam melalui kekuatan cerita rakyat.

Program tersebut terlaksana berkat dukungan hibah Connections Through Culture 2025 dari British Council. Program internasional ini mendorong kolaborasi kreatif antara seniman dan organisasi budaya di Inggris serta kawasan Asia-Pasifik.

Bertempat di Amphitheater Tembi Historical Home, Yogyakarta, pertunjukan tersebut berhasil menarik lebih dari 100 penonton. Salah satu penonton, Arif Rahmanto, mengaku terkesan dengan konsep yang dihadirkan.

Read More

“Performance yang sangat inspiratif dan luar biasa. Membuat saya sejenak tamasya ke alam imajinasi yang bermakna. Satu jam tak terasa,” ujarnya usai acara.

Pertunjukan ini menghadirkan kolaborasi antara Rona Mentari, pendongeng sekaligus pendiri Rumah Dongeng Mentari, dan Roi Galor, storyteller internasional serta salah satu pendiri International School of Storytelling di Inggris.

Melalui proses kreatif yang melibatkan riset mendalam, diskusi lintas budaya, hingga residensi artistik di Yogyakarta, keduanya merangkai narasi yang mengajak audiens merefleksikan kembali hubungan manusia dengan alam.

Rona Mentari berharap karya kolaboratif tersebut tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga mampu mendorong kesadaran lingkungan yang lebih luas.

“Melalui pertunjukan mendongeng lintas budaya ini, kami berupaya menyuarakan respons terhadap krisis iklim global. Semoga bahasa universal dari cerita rakyat dapat menyentuh hati banyak orang dan menjadi pemantik lahirnya gerakan kolektif dalam menjaga bumi,” tuturnya.

Mengusung tema Folktales for the Living Earth, proyek ini menawarkan pendekatan berbeda dalam membicarakan krisis ekologi. Alih-alih hanya mengandalkan data dan fakta ilmiah, pertunjukan ini mengangkat nilai budaya, emosi, serta kebijaksanaan ekologis yang diwariskan melalui cerita rakyat dari kedua negara selama berabad-abad.

Selain menikmati pertunjukan dongeng yang diperkaya dengan Wayang Suket dan musik etnik secara langsung, para peserta juga diajak terlibat dalam sesi dialog interaktif.

Bagi masyarakat yang tidak sempat hadir secara langsung, seluruh rangkaian pertunjukan telah didokumentasikan dan akan ditayangkan secara daring melalui Storyteller for the Earth sehingga dapat diakses penonton dari dalam maupun luar negeri.

Melalui proyek ini, Rumah Dongeng Mentari berharap dapat terus menghadirkan ruang perjumpaan antara budaya, seni pertunjukan, dan kepedulian lingkungan. Storyteller for the Earth menegaskan bahwa cerita rakyat bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan kompas hidup yang tetap relevan untuk memahami dan menghadapi tantangan zaman, termasuk krisis iklim yang dihadapi dunia saat ini.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *