Trenggalek, SEJAHTERA.CO – Sebanyak 12 rumah di Kabupaten Trenggalek mengalami kerusakan dengan tingkatan berbeda akibat dihantam bencana longsor. Sebagian warga memilih mengungsi karena khawatir terjadi longsoran susulan seiring curah hujan yang kerap mengguyur.
Kepala BPBD Trenggalek, Triadi Admono mengatakan, wilayah belasan rumah rusak itu tersebar di 10 desa dari empat kecamatan. Tiga desa di Kecamatan Bendungan meliputi Desa Sumurup, Dompyong dan Surenlor serta Desa Petung, Salamwates dan Pringapus di Kecamatan Dongko.
“Kemudian Desa Karangrejo di Kecamatan Kampak dan Desa Karangturi, Bangun, Besuki di Kecamatan Munjungan,” kata Triadi, Minggu (21/4/2024).
Sebanyak 38 jiwa dari 12 kepala keluarga terdampak bencana, angka itu merujuk rekapitulasi data dampak bencana terbaru. Sementara itu ada tiga fasum/fasos terdampak kerusakan.
Selain longsor, hujan lebat pada Kamis (18/4/2024) mulai pukul 17.00 hingga 23.30 WIB juga menyebabkan 17 desa dari 8 kecamatan terdampak banjir. Termasuk terputusnya akses Kecamatan Bendungan – Trenggalek akibat longsor di empat titik yang saat ini sudah dapat dilalui kendaraan dengan normal.
“Ada 541 rumah tergenang dan 1948 jiwa terdampak, termasuk dua fasum/fasos. Kami sudah melakukan langkah-langkah penanggulangan kebencanaan,” pungkasnya.
Sementara akibat bencana itu, sebagian masyarakat terdampak bencana longsor memilih mengungsi. Mereka khawatir terjadi longsor susulan seiring curah hujan yang kerap mengguyur.
Mereka diantaranya adalah Sarjuni, Nurudin, dan Nurpanto. Rumah kakek, anak, dan cucunya warga Desa Sumurup itu tertimpa material longsor dari tebing setinggi 20 meter di belakang rumahnya.
Dampak longsor yang mengenai bagian belakang rumah itu membuat penghuninya memilih sementara waktu mengungsi ke rumah warga lainnya dan mengosongkan rumahnya. Sebab rumahnya tak lagi layak huni setelah dapur dan kamarnya jebol dihantam material tanah.
“Untuk sementara waktu kami sekeluarga tinggal di rumah tetangga. Karena rumah tidak bisa dihuni karena air dari material longsor terus mengalir ke dalam rumah,” kata salah satu pemilik rumah Sarjuni.
Sarjuni menyebut ketinggian material yang menimpa tiga rumah itu kurang lebih 1 meter. Tingginya material tanah longsor yang berupa tanah dan bebatuan itu menjadikan warga kesulitan untuk membersihkan material longsor. Apalagi saat itu kerap terjadi hujan sehingga rentan terjadi longsor susulan. Evakuasi dilakukan saat kondisinya sudah memungkinkan.
“Tiga rumah ini satu keluarga. Yang satu punya saya, punya anak saya dan cucu. Waktu kejadian semuanya ada di dalam rumah, Alhamdulillah kami semuanya selamat dari bencana itu,” pungkasnya.
Reporter: Angga Prasetya
Editor: Dhita Septiadarma



















