Blitar, SEJAHTERA.CO – Libur panjang sekolah di Kota Blitar sudah usai. Sesuai dengan jadwal, para siswa anyar mulai menjalani hari pertama masuk sekolah.
Hari pertama masuk sekolah, lembaga pendidikan pun menggelar agenda rutin tahunan. Yakni masa pengenalan lingkungan sekolah atau yang biasa disebut dengan MPLS.
MPLS diikuti para pelajar anyar mulai jenjang SD, SMP, hingga SMA sederajat.
“Untuk masa masuk sekolah hari pertama kami berharap seramah mungkin. Karena hakekat MPLS sendiri adalah pengenalan lingkungan sekolah. Tentunya, jangan yang aneh-aneh. Penekanannya pada pendidikan karakter anak,” pesan Wali Kota Blitar Syauqul Muhibbin, Minggu (13/7/2025).
Baca Juga :Jombang-Bengkulu Selatan Jajaki Kerja Sama Sektor Agribisnis
Dia menjelaskan pada momen MPLS ini, setidaknya para lembaga memanfaatkan dengan baik. Jangan sampai siswa baru terbebani.
Pasalnya, MPLS konteksnya adalah materi pengenalan pendidikan secara luas, gambaran umum tentang fasilitas, tempat di sekolah, kebiasaan dan lebih pada tentang kondisi peserta didik.
Termasuk di antaranya aturan-aturan yang ada di lingkup sekolah. “Kalau dari segi kebutuhan, memang MPLS ini juga penting. Maka dari itu, harus dijadikan momen untuk mengenalkan ke siswa soal sekolah,” katanya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pendidikan Dasar dan Menengah, Dinas Pendidikan Kota Blitar, Jais Alwi Mashuri, ada perbedaan MPLS tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya.
Baca Juga :Ada Pengurus KMP di Kota Blitar Enggan untuk Lengkapi Berkas NPWP
Jika sebelumnya hanya digelar tiga hari, sesuai dengan surat edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 10 Tahun 2025 ada perubahan. MPLS kini berlangsung selama lima hari.
“MPLS harus menjadi landasan bagi anak untuk mengenali sekolah. Maka dari itu, harus dilaksanakan dengan lancar, jangan bebani siswa,” kata Jais
Dia menjelaskan, dinas pendidikan sendiri sudah sosialisasi ke sekolah-sekolah. Intinya, pada MPLS tahun ini mengedepankan MPLS ramah.
Yakni mengedepankan nilai-nilai penghormatan terhadap hak anak. Dan yang lebih penting lagi, harus ada penguatan karakter dan pengenalan nilai-nilai positif sejak awal.
Baca Juga :Komisi XII DPR RI Tinjau Perkebunan Sawit, PT Mutiara Agama Terancam Disegel
“Banyak yang bisa disampaikan. Seperti toleransi, etika, hidup sehat. Termasuk di antaranya mencegah untuk tidak ada perundungan atau bullying,” ujarnya.



















