Selain faktor kenaikan harga pakan, cuaca ekstrim juga berdampak pada produksi telur ayam. Teddy yang biasanya mampu memanen hingga 100 kilogram telur ayam setiap hari, kini hanya mampu memanen 8 hingga 10 kilogram.
“Dari 2.300 ayam yang biasanya ada di kandang. Sekarang hanya tersisa 100 ekor, lainnya sudah tak jual atau diafkir,” kata Teddy kembali menandaskan.
Teddy berharap pemerintah segera mengambil tindakan untuk mengembalikan stabilitas harga pakan dan harga jual telur ayam. Jika kondisi tidak membaik, kemungkinan besar peternak ayam petelur di Jombang akan berhenti produksi sementara sampai harga kembali normal.
“Kami berharap agar harga pakan dan harga jual telur ayam segera kembali normal agar usaha peternakan dapat bertahan dan berlanjut tanpa kendala,” pungkasnya.
Reporter : Agung Pamungkas



















