Kediri, SEJAHTERA.CO – Warga terdampak pembangunan Jalan Tol Kediri Tulungagung, tepatnya RT 36 RW 12 Kelurahan/Kecamatan Mojoroto Kota Kediri menolak harga ganti rugi yang dinilai rendah dari tim appraisal.
Nominal atau harga ganti rugi tersebut diketahui tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh warga setempat.
Penolakan tersebut disampaikan lewat banner atau poster setiap rumah warga yang bertuliskan “Kami warga RT 36 RW 12 setuju proyek tol dengan harga yang adil dan layak, menolak ganti rugi yang rendah”.
Banner tersebut terlihat terpasang mulai dari pagar hingga tembok rumah warga.
Umi Lukluil Maknunah (42), salah satu warga menjelaskan, pemasangan banner ini dilakukan sebagai bentuk kekecewaan warga RT 36 karena harga ganti rugi yang rendah dari pihak appraisal proyek Jalan Tol Kediri-Tulungagung.
Oleh karenanya, hal tersebut tidak sesuai dengan apa yang diinginkan atau diharapkan oleh warga.
“Informasinya harga dari arah timur (Kelurahan Semampir) semakin ke barat, harganya semakin murah dan tidak sama. Jadi kesannya tidak adil,” jelasnya, Selasa (17/10/2023).
Lokasi rumahnya, lanjut Umi, berada di pinggir jalan raya provinsi yang seharusnya menjadi pertimbangan untuk mendapatkan harga ganti rugi tinggi.
Menurut dia, warga sebenarnya setuju dengan adanya proyek Jalan Tol Kediri-Tulungagung, asalkan yang terpenting tidak dirugikan.
Tidak hanya itu, ia juga meminta bahwa harga harus sesuai dengan kesepakatan awal dua kali lipat dari harga umum.
“Kalau harganya permeter itu rendah dari tim appraisal itu sebesar Rp 5,2 juta,” bebernya.
Senada disampaikan, Saifudin, warga setempat mengaku, tim appraisal memberikan harga sebesar Rp 5,2 juta permeter. Harga tersebut lebih murah bila dibandingkan dengan harga jual pasaran di wilayahnya yang mencapai Rp 9 juta per meter.
Menurutnya, yang terdampak proyek jalan tol ada dua kelurahan yakni Bujel dan Mojoroto. Sejauh ini, belum ada pertemuan dari pihak terkait dan hanya ada pengajuan.
“Kami menolak karena sudah tahu nominalnya, kemarin belum tahu patokan di Kelurahan Semampir kita diam saja. Tetapi, semakin kesini harganya semakin menurun,” ucapnya.
Dia menyebut, belum ada tanggapan dari pihak terkait hingga saat ini mengenai apa yang diharapkan oleh warga. Bilamana harga nanti sepakat, Saifudin mengaku akan pindah di tempat lain dan kesulitan mencari lokasi yang berada di pinggir jalan.
Apalagi, di tempat tinggalnya saat ini telah memiliki usaha seperti menjual rokok, sembako, maupun lainnya. Karenanya, jika pindah tempat akan kembali seperti awal dulu.
“Saya harap keinginan dari warga tolong didengarkan aspirasinya, jangan seenaknya sendiri untuk memberikan harga kepada warga terdampak,” ungkapnya.
Reporter: Rizky Rusdiyanto



















