Blitar, SEJAHTERA.CO – Kreativitas ditunjukkan Ahmad Redam Sunalis. Warga Desa Jatinom, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar ini menyulap abu sisa pembakaran sampah yang berguna menjadi kerajinan unik. Yakni menjadi kerajinan burung garuda dan miniatur candi.
Baca Juga :Harga Sapi Turun Dampak Paparan PMK, Sapi Masuk di Pasar Dimoro Tak Lebih dari 500 Ekor
Bagi Sebagian warga, abu sisa pembakaran sampah memang tak berguna. Bahkan membuang begitu saja. Abu berwarna hitam pekat kadang pula digunakan campuran batu bata. Tetapi di tangan pria kelahiran 40 tahun silam ini, abu pembakaran bisa mendatangkan rezeki. “Ini ada yang pesan pembuatan burung garuda dari pemerintah desa. Ya, lumayan bisa menambah penghasilan,” katanya.
Pria kreatif itu adalah Sunalis, begitu panggilan akrabnya. Dia menceritakan ihwal pertama menekuni bisnis kerajinan miniatur candi dan patung burung garuda berbahan dasar abu pembakaran.
Baca Juga :Harga Cabai Melambung, KTNA Jatim: Seharusnya Ada Inovasi Pemerintah
Sunalis menekuni usaha kerajinan tergolong masih baru. Sekitar dua bulan. Meski dua bulan, sudah banyak yang pesan. Ini karena kerajinannya unik dan ramah lingkungan. “Bahannya dari abu sisa pembakaran sampah yang berwarna hitam itu. Mudah kok pembuatannya,” katanya.
Baginya, sampah adalah teman sehari-hari. Selama ini dia adalah pekerja yang setiap hari mengurusi sampah. Tempat kerjanya adalah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPSP) Punokawan Desa Jatinom, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar. Tugas sehari-hari selain mengangkut sampah rumah tangga dari rumah warga memilah dan memilih.
Sampah yang sudah tidak bisa didaur ulang dimusnahkan dengan cara dibakar di TPSP. Abu sisa pembakaran sampah di TPSP itu biasanya dibuang atau diambil warga untuk tanah uruk.
Baca Juga :Jambret Kalung, Dua Pelaku Asal Tulungagung Diringkus, Satu Masih Bawah Umur
“Nah, kalau bagi saya abu saya manfaatkan untuk kerajinan,” kata Sunalis yang mengerjakan miniatur candi Penataran, candi ikon Kabupaten Blitar.
Awal mula menekuni usaha itu, karena dirinya sempat kerepotan dengan banyaknya abu pembakaran. Sementara warga yang mengambil untuk uruk juga tak setiap hari. Akhirnya punya ide untuk memanfaatkan menjadi kerajinan. Dari coba-coba ternyata lama kelamaan menarik untuk ditekuni.
Memang pada awalnya, sempat kesulitan membuat maket. Tetapi berbekal tekad kuat, lama kelamaan bisa.
Baca Juga :Tahun ini, Ratusan ASN Pemkab Blitar Pensiun, Salah Satunya Sekda
Untuk pembuatannya juga gampang. Abu dicampur menggunakan semen dan tetes tebu. Itu untuk membentuk kerajinan agar padat. Selanjutnya, abu dimasukkan ke cetakan yang telah disiapkan. Usai padat dan kering, dilepas dan dibersihkan.
Terakhir kali adalah tinggal pewarnaan. “Mudah kok pembuatannya. Yang penting telaten,” ujar pria yang juga pengurus komunitas Sedulur Karang Taruna (Sekata) Blitar Raya ini.
Semula karyanya, hanya untuk koleksi sendiri. Ternyata banyak perangkat desa yang keblinger dengan kerajinannya. Utamanya pemerintah desa di wilayah Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar.
Baca Juga :Dua Bersaudara Perempuan di Ngadiluwih Ditemukan Tewas Membusuk
Bahkan, dirinya menyebut hampir semua pemeritah desa di Kecamatan Kanigoro juga kesengsem dengan kerajinannya. Selain karena unik juga mencerminkan kreatifitas dan setidaknya menjadi pelecut warga agar bisa memanfaatkan barang-barang yang selama ini dianggap tak berguna.
Sasaran pemasaran pemerintah desa, karena setidaknya menjadi pemicu agar warganya ikut mengenal kekayaan Kabupaten Blitar. Salah satunya Candi Penataran. “Sementara di pemerintah desa, selanjutnya bisa ke dinas-dinas. Utamanya miniatur patung burung garuda,” katanya.
Soal harga, juga tergolong murah. Harga kerajinan miniatur candi dijual Rp 75 ribu per biji. Sementara miniatur burung garuda dijual dengan harga Rp 150 ribu per biji. Dia menyebut, hasil karyanya lebih padat tetapi ringan. Selain itu juga awet.
Baca Juga :Pasutri Asal Sidoarjo Otaki Perdagangan Bayi di Kota Batu, ini Motifnya
Dirinya yakin prospek kerajinan berbahan abu cerah. Karena tak banyak yang menekuni. Apalagi, berbahan dasar limbah yang mudah didapatkan.
“Daripada dibuang begitu saja, lebih baik dimanfaatkan dan bisa mendatangkan pendapatan,” kata Sunalis yang 10 menjadi pengolah sampah di TPSP ini.



















