Tulungagung, SEJAHTERA.CO – Dampak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), dan belum adanya instruksi dari pimpinan membuat proses pembangunan jalan di Kabupaten Tulungagung tersendat pada triwulan kedua.
Akibatnya, perbaikan terhadap belasan ruas jalan rusak di wilayah Kabupaten Tulungagung molor untuk dikerjakan.
Plt Kabid Bina Marga, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Tulungagung, Ahmad Rifai Sodik mengatakan, tahun 2026 alokasi anggaran perbaikan infrastruktur mencapai Rp320 miliar.
Penggunaan anggaran untuk perbaikan infrastruktur itu akan dibagi ke dalam empat triwulan.
Secara rinci, pada triwulan pertama anggaran yang telah digelontorkan mencapai senilai Rp 80 miliar untuk perbaikan 10 ruas jalan di Kabupaten Tulungagung.
Saat ini, progres perbaikan ruas jalan itu sudah mencapai 50 persen meski terdapat beberapa proyek perbaikan yang sudah hampir selesai dikerjakan.
Baca Juga :Koper CJH Ponorogo Dikumpulkan 24 April 2026, Maksimal 32 Kilogram
“Pada triwulan pertama, total anggaran yang digelontorkan mencapai Rp80 miliar dan saat ini baru diserap 50 persen,” kata Ahmad Rifai Sodik, Rabu (22/4/2026).
Saat ini, ungkap Sodik, seharusnya sudah memasuki triwulan kedua, namun jalannya proses perbaikan jalan di Tulungagung rupanya tidak sesuai dengan perencanaan.
Pasalnya, saat ini terjadi eskalasi kenaikan harga BBM dunia, sehingga pihaknya harus membuat perencanaan ulang untuk proses perbaikan jalan pada triwulan kedua.
Selain itu, pihaknya saat ini juga tengah menunggu instruksi dari pimpinan, sehingga pihaknya juga belum melakukan proses lelang untuk perbaikan infrastruktur pada triwulan kedua.
Imbasnya, ada sekitar 12 hingga 15 proyek perbaikan infrastruktur dengan anggaran senilai Rp80 miliar yang belum bisa dikerjakan.
“Pada triwulan kedua ini, kami pesimis tidak bisa mencapai target dan bahkan kemungkinan akan molor sampai triwulan ketiga nanti atau pada Juli 2026 mendatang,” ungkapnya.
Secara rinci, Sodik menyebut, beberapa perbaikan infrastruktur yang tersendat diantaranya, ruas jalan Jabalsari, Loderesan, Karangsono, Tenggong, Panjer, Kaligentong dan jembatan Junjung serta Pakel.
Hingga kini, pihaknya masih terus menunggu kepastian instruksi dari pimpinan untuk memulai proses lelang proyek itu.
Sedangkan dampak kenaikan harga BBM, secara otomatis akan menyebabkan target perbaikan jalan yang berkurang dari yang semula sepanjang 90 kilometer, kemungkinan akan berkurang 30 persen.
Meski begitu, pihaknya tetap berupaya bisa menaikan angka kemantapan jalan, mengingat kemantapan jalan di Tulungagung masih 64 persen.
“Kalau perbaikan infrastruktur di triwulan kedua tidak sesuai target, maka kami akan memaksimalkan dan menambah penyelesaian perbaikan infrastruktur di triwulan ketiga. Tahun ini target kemantapan jalan di Tulungagung bisa mendekati angka 70 persen,” pungkasnya.



















