Trenggalek, SEJAHTERA.CO – Dinas Kesehatan Kabupaten Trenggalek meminta masyarakat menggalakkan gerakan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk). Langkah itu dilakukan agar kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) tidak bertambah.
Baca Juga :Puluhan Ribu Warga di 72 Desa Krisis Air Bersih, BPBD Trenggalek: Terbanyak Kecamatan Panggul
Merujuk data yang dihimpun, paparan penyakit yang disebabkan nyamuk aedes aegypti itu melonjak tajam. Mulai awal tahun hingga per 7 Oktober, kasus DBD di Trenggalek mencapai 817 kasus, naik 688 kasus dari 129 kasus di tahun 2023. Naiknya jumlah kasus itu karena saat ini memasuki siklus 5 tahunan.
“Angka demam berdarah pada Agustus pada 30 kasus, sekarang ini Oktober sudah 49 kasus sehingga perlu perhatian khusus,” kata Sunarto Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Trenggalek.
Baca Juga :Penggelapan Uang Republik Dendy Cafe, Kuasa Hukum Tersangka: Kemungkinan Perusahaan Jarang Audit
Untuk mencegah meningkatnya kasus itu, pihaknya memaksimalkan sejumlah langkah. Mulai dari kampanye pemberantasan sarang nyamuk atau PSN dengan kegiatan 3M Plus yaitu menguras, menutup dan mengubur ditambah dengan abatisasi berupa penaburan ikan serta anjuran memakai olesan anti nyamuk.
“Kemudian mengaktifkan juru pemantau jentik, advokasi lintas sektor, pemenuhan obat dan perbekalan Kesehatan untuk perawatan pasien DBD serta penyiapan fasilitas kesehatan baik faskes primer maupun rujukan. Termasuk fogging selektif,” imbuhnya.
Baca Juga :Jaringan Togel Online Digerebek Satreskrim Polres Nganjuk, Satu Pelaku Ditangkap
Pihaknya-pun mewanti-wanti masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, apalagi ditengah kondisi cuaca seperti saat ini.
Diantaranya adalah dengan mengenali gejala demam berdarah dengue, seperti gejala panas naik turun dalam satu minggu pertama, mual muntah disertai perdarahan di kulit juga bisa pada hidung, seperti mimisan, pada gusi dan selaput lendir lainnya.
Baca Juga :Pj Gubernur Jatim Tutup Jambore Satlinmas 2024, ini Pesan yang Disampaikan
“Kalau berdasarkan kriteria usia yang terjangkit, 47% pada usia 15-44 tahun, 30,5% pada usia 5-14 tahun, 17,4% pada umur lebih dari 44 tahun. Sisanya diluar umur tadi. Untuk pasien yang meninggal alhamdulillah tidak ada,” pungkasnya.



















