Tulungagung, SEJAHTERA.CO – Titik terang kasus keracunan massal yang menimpa 27 warga Desa Junjung, Kecamatan Sumbergempol, Kabupaten Tulungagung ditemukan.
Baca Juga :Dua Orang Diamankan Terkait Judi Sabung Ayam Kediri
Keracunan massal itu terjadi akibat makanan nasi kotak terkontaminasi bakteri Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung, Desi Lusiana Wardani mengatakan, sudah mengambil sampel makanan kemudian diuji lab ke RSUD dr. Iskak dan Labkesmas Surabaya.
Uji lab di dua tempat itu dilakukan untuk mendapatkan hasil yang konkret terkait sampel makanan. Mengingat dari 59 orang yang mengonsumsi nasi kotak itu, 27 yang mengalami sakit perut dan satu orang korban dinyatakan meninggal dunia.
Baca Juga :Pemuda Berpakaian Hoodie Pamer Alat Vital di Pasar Besar Malang Viral
“Kemarin sampel makanan sudah kami uji lab di dua tempat yang berbeda yakni di RSUD dr. Iskak Tulungagung dan Labkesmas BBTKLPP Surabaya,” kata Desi Lusiana Wardhani, Rabu (30/10/2024).
Hasil uji lab tersebut, terdapat salah satu lauk pada nasi kotak tersebut ternyata terkontaminasi bakteri yang menyebabkan gangguan pada saluran pencernaan.
Dengan hasil uji lab tersebut, kasus keracunan masal yang terjadi di Desa Junjung Kecamatan Sumbergempol tersebut ditutup. Mengingat sampai saat ini tidak ada lagi aduan keracunan massal baru.
Baca Juga :Pemilik Apotek Tsabita Farma Kota Batu Kaget, Etalase Obat Diacak-Acak Maling
“Kami tidak bisa memberikan keterangan secara detail bakteri apa yang menyebabkan terjadinya keracunan massal itu, karena pemeriksaannya harus dilakukan secara mendetail termasuk saat proses pengambilan dan penyimpanan sampel,” ungkapnya.
Menurut Desi, jika faktor imunitas korban juga mempengaruhi gejala masuknya bakteri ke saluran pencernaan. Mengingat dari 59 orang yang mengonsumsi nasi kotak itu, hanya 27 orang yang mengalami gejala keracunan dan mengakibatkan satu orang meninggal.
Baca Juga :Lima Puluh Persen Lebih DPT Generasi Muda, Firhando Gumelar Ajak Anak Muda Majukan Kota Batu
Demi mengantisipasi terjadinya kasus serupa, pihaknya meminta agar masyarakat mempertimbangkan faktor jangka lamanya makanan itu dimasak. Mengingat jika makanan yang dimasak hingga matang sempurna bisa cepat basi dan tidak layak untuk dikonsumsi.
Selain itu, masyarakat juga harus mengawasi apakah bahan makanan kedaluarsa sebelum diolah dan disajikan kepada masyarakat lainnya. Serta, selama proses mengolah makanan sebelum dimakan diharapkan steril dari kontaminasi.
“Jika makanan itu dimasak pagi, berarti makanan itu tidak akan bertahan sampai malam, sehingga harus dipertimbangkan kapan waktunya makanan itu diserahkan dan dikonsumsi masyarakat,” pungkasnya.



















