KEDIRI, SEJAHTERA.CO – Di tengah pesatnya perkembangan zaman dan teknologi, profesi pandai besi di Kelurahan Banaran, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, masih tetap eksis.
Buktinya, alat-alat pertanian seperti cangkul dan sabit hasil tempaan tangan masih menjadi pilihan utama para petani, terutama karena keawetannya.
Mardiono (67), warga setempat yang telah menekuni profesi pandai besi sejak tahun 1988, tetap setia menempa besi di bengkel sederhana miliknya.
Ia merupakan generasi kedua penerus usaha orang tuanya. Dalam kesehariannya, ia dibantu Slamet, rekannya yang juga telah lama berkecimpung di bidang ini.
BACA JUGA : Kecelakaan Adu Banteng di Kedungrejo Nganjuk, Pengayuh Sepeda Kritis Dihantam Motor
“Alat pertanian seperti cangkul dan sabit masih banyak yang pesan, terutama dari petani di sekitar Kediri. Mereka bilang buatan tangan lebih awet dan tajam,” ujar Mardiono saat ditemui di bengkelnya, Selasa (29/7/2025).
Harga satu buah cangkul dibanderol Rp180 ribu, sementara sabit seharga Rp170 ribu. Meski usianya tak lagi muda, Mardiono tetap semangat memukul besi panas yang membara.
Suara dentuman palunya menjadi irama khas yang telah menemaninya lebih dari tiga dekade.
Salah satu pelanggan setianya, Samuji, petani asal Pare, mengaku sudah lama memesan alat pertanian dari bengkel Mardiono.
“Cangkul buatan Pak Mar lebih kuat dan tahan lama. Saya dan teman-teman petani lain di Pare sering pesan di sini karena bisa disesuaikan dengan kebutuhan,” ungkap Samuji.
Menurut Mardiono, meski alat-alat pertanian modern sudah banyak beredar, banyak petani masih setia menggunakan alat hasil tempaan pandai besi. Selain harganya terjangkau, kualitasnya juga tidak kalah.
BACA JUGA : Lestarikan Wayang dan Dolanan Tradisional, Anak-anak Rudeka jadi Penjaga Budaya
Keberadaan Mardiono menjadi bukti bahwa profesi pandai besi belum punah. Ia berharap generasi muda mau belajar dan melanjutkan keahlian ini agar tidak hilang ditelan zaman.



















