Produksi Arang Rumahan Jombang, Solusi Ramah Lingkungan dan Sumber Ekonomi Kreatif

Produksi Arang Rumahan Jombang, Solusi Ramah Lingkungan dan Sumber Ekonomi Kreatif
Nur Muslikah saat menujukan hasil pembuatan arang dari bahan kayu di rumah produksinya, Jumat (21/2/2025).

Jombang, SEJAHTERA.CO – Di tengah meningkatnya kesadaran akan pentingnya keberlanjutan lingkungan, pembuatan arang dari kayu di Jombang semakin diminati. Proses ini tidak hanya memberikan solusi ramah lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat setempat.

Melihat langsung di lokasi pembuatan arang di Dusun Balongbendo, Desa Kedunglumpang, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang, ternyata hampir kegiatan ini umumnya dilakukan oleh para pengrajin arang di desa tersebut seperti salah satu pengrajin arang, Nur Muslikah (45).

Dikatakan, dalam prosesnya juga dapat dilihat dari pemilihan kayu untuk dibuat arang, dengan menggunakan bahan baku kayu yang masih basah, kemudian dimasukkan ke dalam tungku berbentuk kerucut untuk siap dilakukan pembakaran.

Read More

Baca Juga :Dorong Kemajuan UMKM, Anggota DPR RI Sadarestuwati Minta Pemerintah Beri Perhatian Khusus

“Setelah itu, ratusan jenis kayu yang sudah terpotong tampak berjejer dengan berbagai ukuran di samping tungku pembakaran. Beberapa pekerja juga terlihat melakukan pemilihan serta pengepakan arang untuk dikirim ke pelanggan,” ungkap Nur.

Selain itu, pembuatan arang ini memakan waktu yang cukup lama, melibatkan pemanasan kayu dalam kondisi minim oksigen, sehingga menghasilkan arang yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari bahan bakar hingga pupuk organik.

“Dulu, pembuatan arang masih manual, sekarang sudah lebih ramah lingkungan. Asap yang dihasilkan tidak terlalu banyak sehingga tidak mengganggu lingkungan,” terang pengrajin sudah lima belas tahun.

Baca Juga :Polres Batu Terima Seleksi Hafidz Al Quran sebagai Anggota Polri yang Berakhlakul Karimah

Nur Muslikah menambahkan, proses pembuatan arang ini dikerjakan selama tujuh hingga sepuluh hari. Bahan baku yang digunakan antara lain kayu mangga dan kayu sonokembang.

“Kalau ada permintaan, kami juga bisa mencampur kayu sesuai permintaan pelanggan. Seperti dari Surabaya untuk restoran maupun rumah makan, sedangkan untuk permintaan besar yang diekspor, kami biasanya bekerja sama dengan teman-teman pembuat arang di seputar Jawa Timur,” paparnya.

Nur juga menjelaskan bahwa untuk permintaan ekspor, biasanya menggunakan kayu khusus seperti kayu tamarin atau kayu asam yang harganya lebih mahal.

Baca Juga :Dua Bulan Temukan Tiga Kasus Malaria, Hasil Telusur Pernah Tinggal di Daerah Endemik

“Harga arang kayu tamarin berkisar antara Rp 5.000 hingga Rp 7.000 per kilogram, sedangkan arang kayu biasa harganya Rp 3.000 hingga Rp 3.200 per kilogram,” beber Nur Muslikah.

Dengan potensi yang dimiliki, pembuatan arang di Jombang tidak hanya menjadi solusi untuk mengatasi limbah kayu, tetapi juga sebagai sumber ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat.

Dengan mengolah kayu menjadi arang, para pengrajin juga mengatakan tidak hanya mendapatkan penghasilan, tetapi juga berkontribusi pada pelestarian lingkungan.

Baca Juga :Mengulik Keberadaan Patung Kiai yang Sering Jadi Bahan Ritual di Klenteng Jombang

“Manfaat arang ini selain digunakan sebagai bahan bakar yang efisien, juga dapat dimanfaatkan dalam pertanian sebagai pupuk organik yang dapat meningkatkan kesuburan tanah,” pungkasnya.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *