Serapan Pupuk Subsidi Masih Minim, Hanya Cukup untuk Musim Tanam Pertama, Ini Penjelasan Dispertan Kabupaten Tulungagung

Tulungagung, SEJAHTERA.CO – Serapan pupuk subsidi selama dua bulan terakhir di Kabupaten Tulungagung terbilang sangat minim. Hal itu dikarenakan masa tanam petani yang mundur lantaran hujan yang terjadi di Tulungagung belum merata pada semua wilayah yang membuat lahan sawah kering.

 

Kabid Penyuluh Pertanian, Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Tulungagung, Triwidyono Agus Basuki mengatakan, pada tahun 2024, petani di Tulungagung mendapat jatah sekitar 14 ribu ton pupuk urea dari total kebutuhan sebanyak 27 ribu ton dan sekitar 9 ribu ton NPK dari kebutuhan 33 ribu ton.

Read More

Jatah pupuk tersebut sebenarnya mampu untuk mencukupi kebutuhan pupuk para petani di Tulungagung pada Masa Tanam pertama (MT 1) di tahun 2024. Namun kenyataannya, selama dua bulan di awal tahun 2024, serapan dua jenis pupuk subsidi tersebut masih sangat minim yang berarti belum diambil petani.

 

“Memang alokasi pupuk subsidi yang diberikan pemerintah pusat tahun ini sangat sedikit, tetapi itu cukup untuk memenuhi MT 1,” kata Triwidyono Agus Basuki, Senin (25/3/2024).

Serapan pupuk subsidi ini, ungkap Oky -sapaan akrabnya, terbilang sangat minim lantaran selama periode bulan Januari – Februari 2024 masih di kisaran 12,34 persen untuk pupuk urea. Sedangkan untuk pupuk NPK sendiri, serapannya juga sangat sedikit yakni masih diangka 11,10 persen saja.

 

Secara rinci, selama dua bulan terakhir berarti pupuk urea yang sudah tersalurkan ke seluruh petani di Tulungagung hanya sebanyak 1.816 ton saja. Sedangkan untuk pupuk NPK justru lebih kecil lagi yakni hanya terserap sebanyak 1.078 ton saja, padahal biasanya pupuk NPK laris diburu para petani.

“Dua bulan kemarin serapannya masih minim, urea saja masih terserap 12,34 persen saja dan NPK baru terserap 11,10 persen. Padahal cuaca yang masih panas seperti ini, NPK akan lebih laku ketimbang urea,” ungkapnya.

 

Oky menyebut, pada Januari 2024 saja, hanya ada 7 kecamatan dari 19 kecamatan di Tulungagung saja yang sudah mengambil pupuk urea dan NPK. Namun, pada Februari 2024, mulai bertambah menjadi 16 kecamatan yang sudah menebus dua jenis pupuk subsidi tersebut meski jumlahnya minim.

Menurut Oky, minimnya serapan pupuk subsidi pada dua bulan terakhir diyakini karena faktor mundurnya masa tanam di lahan persawahan pada tahun 2024 ini. Hal itu tidak lain merupakan dampak kondisi alam yang mana turunnya hujan juga masih belum merata di semua wilayah di Tulungagung.

 

“Informasi dari petani memang terkadang terjadi hujan, tetapi air hujan itu belum mampu membasahi lahan sawah. Prediksi kami Maret ini serapan sudah mulai tinggi, karena jatah pupuk ini seharusnya habis dalam 6 bulan,” pungkasnya.

Reporter : Mochammad Sholeh Sirri

Editor : Dhita Septiadarma

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *