Tempat Bermukim 119 Warga Riskan Longsor, Pemkab Trenggalek Buat Skenario Pemukiman Terdampak Tanah Gerak

Tempat Bermukim 119 Warga Riskan Longsor, Pemkab Trenggalek Buat Skenario Pemukiman Terdampak Tanah Gerak
Mas Ipin saat meninjau lokasi tanah gerak (angga/sejahtera.co)

Trenggalek, SEJAHTERA.CO – Pemkab Trenggalek mengupayakan solusi jangka panjang penanggulangan 119 warga terdampak tanah gerak di RT 18/RW 03 Dusun Depok, Desa Ngrandu, Kecamatan Suruh.

Baca Juga :Sebanyak 7 WNA Nakal Ditindak Imigrasi Blitar

Solusi jangka panjang itu diperlukan karena area permukiman mereka tak lagi aman untuk ditempati.

Read More

Saat ini sebanyak 119 warga terdampak tanah gerak dari 43 kepala keluarga di 38 rumah itu terpaksa mengungsi ke rumah saudara di area terdekat wilayah desa setempat maupun di desa sekitarnya. Namun, beberapa di antaranya tinggal di tiga posko pengungsian yang disediakan pemerintah.

Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin mengatakan, telah mengevakuasi seluruh warga, termasuk hewan ternak maupun benda-benda berharga lainnya ke tempat yang lebih aman. Evakuasi itu dibantu petugas gabungan, mulai dari BPBD, TNI-POLRI, BAZNAS, Tiga Pilar hingga masyarakat desa setempat.

Baca Juga :Ruang Layanan BPKB Diresmikan, Ini Harapan Kapolres Blitar

“Evakuasi kita lakukan karena kondisi tanah khususnya di RT 18 sudah sangat mengkhawatirkan. Kita lihat tadi situasi juga sempat mendung, jadi hari ini dipastikan evakuasi terakhir,” kata Mas Ipin sapaan akrabnya saat meninjau lokasi bencana, Rabu (18/12).

Untuk sementara waktu, Mas Ipin menyebut warga tinggal ke area yang lebih aman. Sebab, rumah warga maupun area permukiman mereka tak lagi layak huni. Rumah warga banyak mengalami keretakan pada temboknya hingga lantainya amblas. Kondisi itu dinilai membahayakan untuk ditempati sehingga warga harus mengungsi.

Baca Juga :Hari Jadi RSUD Gambiran ke-149, Gelar Turnamen Tenis Meja Wali Kota Kediri Cup antar RS Pertama se Jatim

“Untuk beberapa pengungsian, BAZNAS juga dari BPBD, Dinsos semuanya bergerak, kasur, selimut, terus sembako, makanan siap saji, TNI-Polri juga membantu evakuasi tadi mobil kepolisian juga kita gunakan, Pak Dandim juga langsung turun jadi semuanya kita gotong royong,” imbuhnya.

Selain penanggulangan prioritas dampak bencana, pihaknya juga tengah merumuskan solusi jangka panjang. Berbagai skenario dilakukan, diantaranya adalah mencari lahan pengganti area permukiman bagi warga terdampak bencana. Solusi itu menjadi langkah paling realistis, mengingat area tersebut membahayakan untuk permukiman.

Baca Juga :Ruas Jalan Desa Rusak, Truk Pengangkut Susu Dilarang Melintas, Ini Penjelasan Dishub Kabupaten Tulungagung

“Saya sudah instruksikan ke pemerintah desa untuk mencari lahan sebagai resettlement atau pemukiman kembali bagi warga terdampak. Kalau mereka punya tanah di desa lain atau mendekatkan sama keluarga ya nanti kita bantu untuk membangun rumahnya, tapi kalau tidak ada ya kita bantu pengadaan tanah maupun pembangunan rumahnya,” jelasnya.

Untuk mendukung realisasi itu, Mas Ipin menyebut terdapat berbagai skema pendanaan dengan kolaborasi lintas sektoral baik pemerintah daerah hingga pemerintah provinsi maupun pusat. Termasuk dukungan dari sektor swasta lewat bantuan yang disalurkan melalui BAZNAS.

Baca Juga :Debit Air Sungai Meluap, Halaman Sekolah Dasar Ngampel 2 Amblas

“Makanya BAZNAS juga masih membuka donasi nanti sebagian dana bisa kita gunakan untuk membantu, sembari juga tadi ada salam dari Pak Pj Gubernur tadi juga memberikan atensi, provinsi nanti juga akan membantu,” kata dia.

Dalam kesempatan itu, Mas Ipin kembali mengingatkan masyarakat khususnya yang tinggal di area pegunungan untuk menjaga pohon-pohon tegakan di kawasan hutan. Hal itu untuk memperkuat cengkeraman tanah untuk mengantisipasi potensi bencana longsor maupun terjadinya tanah gerak.

Baca Juga :Pohon Natal Unik Terbuat dari Batang Lidi Setinggi 6 Meter, Jadi Simbol Persatuan dan Kesatuan Menghadapi Berbagai Tantangan

“Pokoknya pucuk-pucuk gunung itu meskipun padat penduduk kalau bisa, boleh tanaman produktif tapi tanaman kayu. Karena tanah kita itu kan gembur jadi biar tanah itu ada yang mengikat, yang mengikat ya akar-akarnya pohon-pohon besar itu. Kalau kita lihat yang masih pohon-pohon besar ya aman, yang tadi kita lihat yang longsor lahan pertanian. Saya tidak menyalahkan masyarakat tapi ada pilihan ekonomi dari pohon itu yang bisa tumbuh buah,” jelasnya.

Untuk itu, Mas Ipin berharap masyarakat lebih selektif dalam pemilihan pohon yang disesuaikan dengan kriteria lahannya. Dengan demikian, masyarakat tetap dapat merasakan manfaat perekonomian tanpa dibayang-bayangi bencana. Terlepas itu, Mas Ipin bakal melakukan reboisasi di lahan-lahan yang dinilai gundul untuk mencegah terjadinya bencana alam.

Baca Juga :Pohon Natal Unik Terbuat dari Batang Lidi Setinggi 6 Meter, Jadi Simbol Persatuan dan Kesatuan Menghadapi Berbagai Tantangan

“Ya itu nanti yang kita bantu bibit juga, jadi di desa-desa tolong asesmen kalau ada wilayah-wilayah yang seperti itu segera bilang. Kita segera gerakkan untuk kita tanami tanaman kayu yang produktif,” pungkasnya.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *