Warga Binaan Lapas Kelas IIB Jombang Dilatih Produktif, Buat Kerajinan Limbah Kayu

Warga Binaan Lapas Kelas IIB Jombang Dilatih Produktif, Buat Kerajinan Limbah Kayu
Warga binaan Lapas Kelas IIB Jombang tengah membuat kerajinan dari limbah kayu di bengkel kerja dalam lapas. Produk seperti miniatur kapal dan furnitur kecil dijual untuk mendukung program kemandirian.(ist)

Jombang, SEJAHTERA.CO – Warga binaan Lapas Kelas IIB Jombang membuktikan diri bisa produktif. Mereka mengubah limbah kayu menjadi beragam kerajinan tangan bernilai ekonomi.

Mulai dari miniatur kapal laut, sepeda motor, hingga furnitur mini dan jam dinding, semua dibuat dengan teliti oleh tangan-tangan terampil warga binaan. Yang menarik, bahan bakunya berasal dari limbah kayu yang semula dianggap tak berguna.

“Bahan baku disediakan oleh Lapas Jombang, dan semuanya berasal dari kayu limbah,” kata Wahyu, salah satu warga binaan yang sudah dua tahun menekuni keterampilan ini.

Read More

Baca Juga :Ratusan SD dan SMP Tak Punya Kepala Sekolah, Ini Kata Kepala Dindik Kabupaten Ponorogo

Ia menambahkan, saat ini sedang membuat beberapa kerajinan seperti miniatur kapal dan furnitur kecil. Semua prosesnya ia kerjakan sendiri bersama teman-temannya. “Mulai dari pemotongan, penghalusan, hingga pengecatan,” tandasnya

Kalapas Jombang, M. Ulin Nuha menjelaskan, kegiatan ini bagian dari program pembinaan keterampilan dan kemandirian untuk warga binaan.

“Dengan keterampilan yang mereka peroleh, kami berharap mereka dapat lebih mudah berintegrasi kembali ke masyarakat setelah menjalani masa hukuman,” ujar Ulin.

Produk-produk hasil karya ini tak sekadar dipamerkan, tapi juga dijual lewat media sosial, marketplace, dan galeri kerajinan Lapas. Keuntungannya akan dibagikan ke warga binaan dalam bentuk upah premi.

Baca Juga :Sah! Wisuda dan Study Tour PAUD hingga SMP di Nganjuk Resmi Dilarang, Ini Alasannya!

“Sebagian juga kami gunakan untuk mendukung program pembinaan lainnya,” tambahnya.

Ia menekankan bahwa setiap orang punya peluang untuk berubah, selama diberi bimbingan dan kesempatan.

“Dengan dukungan yang baik, mereka dapat bertransformasi menjadi individu yang lebih baik. Ini menunjukkan bahwa selalu ada kesempatan untuk memperbaiki diri,” tutup Ulin.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *