Kediri, SEJAHTERA.CO – Normalisasi pada sumur warga terdampak pencemaran di Tempurejo masih belum dilakukan. Karena itu Dinas Lingkungan Hidup Kehutanan dan Pertamanan (DLHKP) melakukan pertemuan kembali dengan pihak SPBU dan Pertamina sesuai janji minggu lalu, Kamis (9/11).
Dalam pertemuan tersebut, warga terdampak meminta ganti rugi sebesar Rp 1,5 Juta kepada pihak SPBU Pertamina perbulan. Menanggapi hal tersebut Wakil Ketua Komisi C DPRD Kota Kediri, Ashari menyampaikan jika nominal itu wajar dan tidak berlebihan.
“Menurut kami nilai sebesar itu tidak sebanding dengan apa yang dirasakan oleh warga terdampak, walaupun sudah ada bantuan air bersih tetapi warga jadi terbatas dalam menggunakan air karena harus bisa membagi,” jelas Ashari.
Warga terdampak, Sulastri juga mengungkap, terpaksa menggunakan air dari kran yang masih berbau untuk mencuci.
“Ya saya terpaksa, walaupun ada bantuan air bersih sampai sekarang tetapi untuk mencuci baju saya terpaksa pakai air kran biar tetap cukup,” ujarnya.
Sumur milik warga terdampak hingga saat ini masih berbau bahkan masih terlihat minyak yang ada di dalam sumur. Dia berpendapat, penanganan sumur milik warga terlampau lama.
Sementara itu Kepala DLHKP, Imam Muttakin menjelaskan, tindakan normalisasi sumur warga telah mereka diskusikan bersama dengan ITS.
“Waktu normalisasi bisa 2 sampai 3 bulan tergantung seberapa banyak kontaminasi dalam air sumur,” jelas Imam.
Minggu depan, SPBU akan melakukan normalisasi didampingi oleh tim dari ITS dan diawasi oleh DLHKP sesuai dengan perjanjian sebelumnya. Selain itu setiap kegiatan SPBU dan Pertamina harus melibatkan DLHKP selama pemulihan pencemaran.
Pengacara dari SPBU Pertamina, Eko Budiono menjelaskan, pihaknya bisa memberikan kompensasi kepada warga, tetapi dengan nominal Rp 500 ribu per bulannya. Jika warga tidak setuju nominal itu akan dirundingkan kembali dengan pemilik SPBU Pertamina.
Adapun uang kompensasi yang diminta warga akan diberikan hingga air pada sumur warga layak konsumsi.
“Proses Normalisasi bisa lebih lama lagi karena ini masih musim kemarau, kemudian untuk SPBU perbaikannya sudah hampir selesai,” pungkas Eko.(c1)



















