Siraman Gong Pradah di Alun-alun Lodoyo, Warga Berebut Cipratan Air Berkah

Siraman Gong Pradah di Alun-alun Lodoyo, Warga Berebut Cipratan Air Berkah
Suasana siraman Gong Kyai Pradah yang dipusatkan di Alun-Alun Lodoyo. (Aziz/sejahtera.co)

Blitar, SEJAHTERA.CO – Ribuan warga memadati pelataran Alun-alun Lodoyo di Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar, saat kegiatan Siraman Gong Pradah. Warga yang berasal dari sejumlah daerah itu berebut air berkah.

Baca Juga :Cari Keadilan dan Kepastian Klaim Tanah Sepihak, Dilaporkan Pencemaran Nama Baik

Kegiatan Tradisi siraman diadakan tepat 17 September ini sudah menjadi agenda tahunan dan berlangsung ratusan tahun.

Read More

Siraman gong dimulai pukul 10.00. Sejak pagi, ribuan warga sudah memenuhi jantung kota Lodoyo. Tak hanya dari Jawa Timur, tetapi juga dari luar Jawa. Mereka ke Blitar berdalih untuk ngalap berkah air bekas cucian atau jamasan gong. Warga percaya jika bisa mendapat air, bakal makmur dan awet muda serta berkah.

Baca Juga :Percantik Jalan Mastrip, Pemkot Blitar Anggarkan Rp 1,3 Miliar

Ritual diawali dengan mengirab gong yang dibungkus kain kafan. Gong dikeluarkan dari tempat penyimpanan tak jauh dari alun-alun. Dengan pengawalan ketat, gong dikirab menuju menara atau panggung. Di lokasi sudah dilengkapi dengan aneka bunga setaman hingga air.

Setelah 20 menit gong dimandikan, air bekas siraman inilah yang diburu. Di bawah menara, sudah menunggu ribuan warga. Mereka menengadahkan tangan tanda minta air disiramkan. Para petugas yang memandikan gong spontan mencipratkan air sekeliling.

Baca Juga :Jadi Tempat Favorit, Telaga Ngebel Ponorogo Sumbang PAD Ratusan Juta Rupiah Selama Libur Panjang

Sontak warga pun bersorak-sorai dan tak sedikit yang sambil memejamkan mata sesaat setelah terkena limpahan air. “Air ini bertuah. Kami berdoa kehidupan yang lebih baik, perlindungan dari segala marabahaya, dan doa-doa untuk kesehatan selalu murah rezeki,” kata Misbahun, warga asal Klaten, Jawa Tengah.

Menurut Bupati Blitar, Rini Syarifah, Gong Kyai Pradah sangat disakralkan. Siraman menjadi daya tarik wisatawan sekaligus nguri-uri budaya. Siraman Gong Kiai Pradah sebagai bagian identitas budaya daerah. Utamanya Kabupaten Blitar.

Baca Juga :Dishub Kota Blitar Ubah Jalan Masjid Searah, ini Penyebabnya

Bagi warga Blitar, Gong Kyai Pradah adalah pusaka paling sakral. Gong Kyai Pradah alat musik gamelan yang diyakini memiliki kekuatan gaib. Pusaka ini sering digunakan media untuk memohon berkah dan keselamatan.

Setiap tahunnya, tradisi siraman atau jamasan Gong Kiai Pradah menjadi momen yang dinantikan masyarakat.

Gong Kyai Pradah memiliki sejarah panjang. Awalnya, pusaka ini bernama Bendil Kiai Bicak, milik Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram Islam.

Baca Juga :Sejoli yang Nekat Aborsi di Kota Batu, Cari Obat Penggugur Kandungan Melalui Tiktok

Sebelum menjadi milik Senopati, Bendil Kiai Bicak dimiliki oleh Ki Ageng Selo, leluhur Panembahan Senopati yang berdarah Majapahit. Cerita mistis dan sakral kerap mengiringi perjalanan pusaka ini, termasuk ketika Pangeran Prabu membawanya ke Blitar setelah terbuang dari istana Kerajaan Mataram di Kartasura.

Baca Juga :Disiplinkan Pengendara, Polres Tulungagung Jaring 77 Pelanggar Lalu Lintas

Selain Gong Kiai Pradah, pada waktu yang sama juga dilaksanakan ritual siraman pusaka Wayang Kiai Bonto di Desa Kebonsari, Kecamatan Kademangan. Wayang Kiai Bonto, yang merupakan peninggalan Pangeran Prabu, juga dipercaya memiliki kekuatan gaib.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *