Belasan Orang Kehilangan Nyawa Akibat HIV-AIDS, Ini Data Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar

Belasan Orang Kehilangan Nyawa Akibat HIV-AIDS, Ini Data Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar
Belasan Orang Kehilangan Nyawa Akibat HIV-AIDS, Ini Data Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar

Blitar, SEJAHTERA.CO – Angka kasus orang dengan HIV-AIDS atau ODHA di Kabupaten Blitar masih saja tinggi. Selama sepuluh bulan atau mulai Januari hingga Oktober 2024 ini, ada 138 kasus, sebanyak 17 meninggal akibat serangan penyakit yang tak ada obatnya itu.

Baca Juga :Sebanyak 30 Perlintasan KA Belum Berpalang Pintu, Ini Penjelasan Dishub Kabupaten Blitar

Hal itu diungkapkan Subko Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan (dinkes) Kabupaten Blitar, Eko Wahyudi. Dia mengakui kasus ODHA menjadi atensi. Ini karena ada kasus yang berakhir dengan kematian.

Read More

“Tahun ini ada 138 kasus dan mudah-mudahan tahun depan bisa diturunkan angkanya,” kata Eko Wahyudi, Senin (4/11/2024).

Dia mengatakan, sebanyak 138 ODHA itu berasal dari sejumlah kecamatan di Kabupaten Blitar. Mereka diketahui mengidap penyakit yang menjadi momok itu setelah melalui serangkaian tes.

Baca Juga :Dituding Tak Profesional Tangani Pelaporan, Komisioner Bawaslu Kota Blitar Diadukan ke DKPP

Salah satunya tes di RSUD Ngudi Waluyo Blitar. Ada setidaknya 12 kasus yang masuk. Mereka memeriksakan diri setelah kesehatannya memburuk.

Diketahui, selain positif ODHA juga disertai dengan penyakit penyerta. Salah satunya tuberculosis atau TBC dengan indikasi batuk parah. “Masuk ke rumah sakit sudah dalam kondisi parah,” katanya.

Tak hanya disertai TBC, beberapa ODHA di antaranya juga ada penyakit penyerta yang sama-sama bahaya. Salah satunya toksoplasmosis penyakit infeksi parasit hingga stadium 4.

Baca Juga :Pemotor Tewas Terlindas Truk di Kediri

Stadium 4 dalam dunia medis adalah parameter dalam kondisi parah. Para ODHA mayoritas meninggal dalam kondisi parah.

Dan rata-rata meninggal ketika menjalani perawatan intensif di intensive care unit atau ICU. Bahkan, lanjutnya, ada pasien yang kurang sadar menjaga kesehatannya.

Pasien yang sudah mengidap penyakit kelamin ini cukup lama dan parahnya tak diobati. Baru diobati ketika dalam kondisi memburuk.

Baca Juga :Memasuki Musim Hujan Harga Jagung di Kediri Anjlok Rp4.800 per Kilogram

“Malas berobat. Padahal kami sudah berusaha menyadarkan agar bisa ditangani secara dini,” tambahnya.

Dia menambahkan, berdasarkan hasil evaluasi diketahui jika kasus ODHA tak hanya didominasi usia lansia atau dewasa. Mayoritas rentang usia 20 tahun hingga 30 tahun.

Baca Juga :Cegah Pencemaran Emisi, Dishub Tulungagung Kembangkan Becak Listrik, Bakal Dijadikan Moda Transportasi Umum di Kota Marmer

“Sementara ada pasien yang seharusnya dirawat intensif tetapi memaksa pulang. Hingga akhirnya meninggal dunia,” pungkasnya.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *