Trenggalek, SEJAHTERA.CO – Pembentukan Desa Tangguh Bencana (Destana) di Kabupaten Trenggalek terus diperluas. Hingga tahun 2023 ini, sebanyak 55 Destana telah terbentuk dari total 152 desa dan 5 kelurahan di Bumi Menak Sopal. Ini urgensinya sehingga pembentukan Destana di kabupaten yang ada di pesisir selatan Jawa itu terus diperluas.
Kepala BPBD Trenggalek, Triadi Admono mengatakan, perluasan pembentukan Destana itu dilakukan karena Bumi Menak Sopal menjadi salah satu daerah rentan dilanda bencana alam, seperti misalnya banjir, tanah longsor hingga tsunami.
Dengan kata lain, pembentukan Destana itu sebagai langkah mitigasi penanggulangan bencana.
“Karena itu, pembentukan Destana itu sebagai langkah mitigasi penanggulangan bencana,” kata Triadi, Senin (8/1).
Potensi bencana tanah longsor itu, lanjut Triadi, dikarenakan lebih dari separuh wilayah Trenggalek itu adalah kawasan dataran tinggi atau pegunungan. Di titik-titik tertentu, kondisi itu berpotensi dilanda bencana longsor saat terjadi hujan lebat dengan durasi tertentu.
Selain itu Kabupaten Trenggalek juga berbatasan langsung dengan laut sehingga tidak lepas dari ancaman potensi tsunami.
“Untuk itu pembentukan Destana disesuaikan dengan potensi bencana di masing-masing daerah. Seperti misalnya potensi daerah banjir, potensi daerah longsor dan lain sebagainya,” imbuhnya.
Lewat pembentukan Destana itu diharapkan masyarakat di daerah rentan bencana alam memiliki kemampuan mandiri untuk beradaptasi dan siap menghadapi potensi ancaman bencana yang bisa terjadi sewaktu-waktu. Serta memulihkan diri dengan segera dari dampak bencana yang merugikan.
“Dengan kata lain mereka dilatih. Nanti misalnya kalau terjadi bencana langkahnya seperti ini, titik kumpul evakuasinya kesini, termasuk cara menggunakan peralatan seadanya untuk evakuasi bantuan,” ujarnya.
Dalam latihan itu, petugas bersama masyarakat melakukan simulasi bencana sesuai potensi bencana di daerah masing-masing. Tujuannya agar langkah penanggulangan seperti misalnya titik kumpul evakuasi sesuai dengan pemetaan bencana.
Sebab di Destana itu, petugas juga memasang rute seperti misalnya titik aman kumpul saat terjadi sungguhan.
“Kemudian masyarakat mempraktikkannya secara langsung seperti misalnya bagaimana membuat tandu untuk menolong warga dengan alat seadanya. Bisa ditandu pakai sarung dan alat-alat seadanya, kita latih dan praktikkan,” jelasnya.
Destana itu nantinya bakal dibentuk secara menyeluruh, menyesuaikan skala prioritas serta potensi tingginya terjadi bencana alam di suatu daerah. Saat ini ada sebanyak 55 Destana baik yang dibentuk BPBD setempat maupun provinsi di 14 kecamatan.
Pembentukan Destana dilakukan karena seluruh daerah Trenggalek berpotensi dilanda bencana alam. “Desa Tangguh Bencana atau Destana yang sudah terbentuk ada 55 desa/kelurahan. Kedepannya dilakukan menyeluruh secara bertahap,” kata dia.
Untuk diketahui, sepanjang tahun 2023, Trenggalek dilanda 57 kali kebakaran hutan dan lahan, 57 kali bencana longsor, 43 desa/kelurahan kekeringan, 13 kali angin kencang, 4 kali banjir dan 234 kali gempa.
Jumlah itu relatif lebih kecil jika dibandingkan peristiwa pada tahun sebelumnya, dimana pemerintah daerah setempat sampai mengeluarkan status tanggap darurat bencana. “Selain pembentukan Destana, langkah mitigasi lainnya juga kita lakukan bersama elemen pentahelix,” pungkasnya.
Reporter: Angga Prasetya
Editor: Dhita Septiadarma



















