Drama Kolosal PETA Kobar Agni Bela Nagari, Wali Kota Blitar: Jangan Lupakan Sejarah

Drama Kolosal PETA Kobar Agni Bela Nagari, Wali Kota Blitar: Jangan Lupakan Sejarah

Blitar, SEJAHTERA.CO – Meski sempat tertunda akibat jadwal terbentur coblosan Pemilu 14 Februari, gelaran drama kolosal pemberontakan tentara PETA tetap meriah. Ribuan pasang mata menjadi saksi pentas yang memukau dan spektakuler, Sabtu malam (17/2/2024).

Pentas drama kolosal 2024 lokasinya tetap. Yakni di kompleks Monumen PETA di Jalan Sudhanco Supriyadi Blitar. Drama kolosal sudah menjadi agenda tahunan Pemkot Blitar. Pagelaran yang dimulai pukul 20.00 itu menjadi ikon wiisata dan literasi andalan dalam rangka menanamkan patriotisme dan nasionalisme warga.

Pentas drama kolosal kali ini bertema Kobar Agni Bela Nagari. Selain memperingati pemberontakan tentara PETA, drama kolosal juga menggaungkan peringatan Hari Cinta Tanah Air.

Read More

“Drama kolosal sudah menjadi agenda resmi Pemkot Blitar. Harapannya semangat patriotisme dan nasionalisme tetap terpatri. Yang lebih penting lagi, jangan lupakan sejarah.  79 tahun lalu, di Kota Blitar ada peristiwa penting tentang sejarah kemerdekaan,” kata Wali Kota Blitar, Santoso.

Dijelaskan Santoso  Pemkot Blitar  akan terus menggaungkan  semangat patriotisme dan nasionalisme. Bahkan pada peringatan Hari Cinta Tanah Air, juga menggelar upacara resmi di halaman kantor wali kota. Para abdi negara mengenakan kostum perjuangan, khususnya identik dengan tentara PETA.

“Dan di Kota Blitar ini pula disemayamkan  presiden pertama RI,  Soekarno. Ini yang menjadi penyemangat menggelorakan acara cinta tanah air,” katanya.

Dia menegaskan drama kolosal setidaknya  memberi teladan dan pelajaran melalui kisah perjuangan pahlawan.

“Kami tunjukkan kepada anak-anak bahwa di Kota Blitar, jauh sebelum kemerdekaan, bendera merah putih sudah lebih dulu dikibarkan di Monumen Potlot di Kota Blitar,” jelasnya.

Selain itu, di tanah Kota Blitar memiliki tokoh pahlawan nasional yang kental dengan jiwa semangat nasionalisme. Bung Karno menegaskan, Jas Merah, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Jangan pernah lupakan perjuangan pahlawan.

Sementara itu, suasana drama kolosal berlangsung semarak. Ratusan pemeran dari pelajar sukses menggambarkan kondisi rakyat 79 tahun silam. Mulai penindasan penjajah Belanda hingga Jepang.

Puncaknya para tentara PETA yang dimotori Shudanco Supriyadi memberontak ke Jepang lantaran tak tega dengan nestapa rakyat yang menderita.  Suasana tambah apik ketika disuguhi dengan tayangan visual soal gambaran rakyat hidup di bawah penjajahan.

Reporter : Aziz Wahyudi

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *