Tulungagung, SEJAHTERA.CO – Banyaknya kasus kebakaran hutan (Karhutla) di Kabupaten Tulungagung selama satu bulan terakhir, membuat BPBD mengambil langkah pencegahan secara tepat. Pasalnya, selama September 2023, sedikitnya ada enam karhutla.
Kepala BPBD Kabupaten Tulungagung, Robinson Nadeak membenarkan jika selama September sudah ada enam karhutla. Bahkan karhutla juga menjadi perhatian khusus pejabat (Pj) Bupati dan meminta BPBD segera bertindak.
Diketahui, enam karhutla terjadi di lima kecamatan, yakni dua kali di Kecamatan Campurdarat, dan masing-masing satu di Kecamatan Boyolangu, Kauman, Kalidawir dan Gondang. Penyebabnya diduga faktor manusia yang membakar sampah.
“Awalnya membakar sampah, kemudian lupa tidak mematikan api atau sudah dimatikan tetapi api tidak padam sempurnya, hingga menyulut kebakara yang lebih luas,” kata Robinson Nadeak, Senin (9/10/2023).
Akibat karhutla tersebut, jelas Robinson, Pj Bupati Tulungagung Heru Suseno meminta agar segera melakukan langkah antisipasi agar peristiwa karhutla serupa tidak lagi terjadi.
Mengingat musim kemarau diprediksi sampai Maret 2024 mendatang, sehingga apabila peristiwa serupa kembali terjadi, tentu dampaknya bisa lebih parah.
Pihaknya lantas akan segera bertindak dengan mengaktifkan desa siaga bencana pada setiap desa di Kabupaten Tulungagung demi mengantisipasi kejadian serupa.
Dengan begitu, setiap masyarakat pada desa-desa tersebut akan secara aktif melakukan pengawasan demi mencegah terjadinya karhutla kembali.
“Kalau hanya kami saja yang bergerak, tentu tidak akan efektif, sehingga kami memilih mengaktifkan kembali desa siaga bencana sesuai instruksi Pj Bupati,” jelasnya.
Disinggung terkait penerapannya, Robinson mengungkapkan, desa siaga bencana yang diaktifkan ini akan difokuskan pada wilayah desa yang rawan terjadi karhutla.
Diketahui, desa-desa rawan ini tentunya berlokasi pada wilayah pegunungan yang banyak ditumbuhi tanaman yang berpotensi sebabkan karhutla.
Selain diaktifkannya kembali desa siaga bencana, pihaknya juga akan rutin memberikan sosialisasi kepada masyarakat terutama bagi warga yang tinggal pada lokasi rawan.
Mengingat, terjadinya karhutla sering kali akibat hal-hal kecil yang kerap disepelekan oleh masyarakat, sehingga harapannya hal seperti itu bisa dicegah oleh masyarakat.
“Contoh sederhananya seperti membuang puntung rokok, apabila dibuang secara sembarangan dalam kondisi bara yang menyala dan mengenai tumpukan daun kering, tentu berpotensi menyebabkan karhutla,” pungkasnya.
Reporter : Mochammad Sholeh Sirri
Editor :



















