Jombang, SEJAHTERA.CO – Akhir-akhir ini harga kedelai impor mengalami kenaikan, dari Rp 10.500 menjadi Rp 12.500 per kilogram. Akibatnya produsen atau pemngrajin tahu di Kabupaten Jombang, kelimpungan.
Untuk menyiasati kenaikan harga kedelai impor, dalam satu bulan terakhir itu, para pelaku usaha tahu memilih untuk menyiasatinya dengan memperkecil ukuran tahu.
Seperti diungkapkan Abdul Rohim (48), perajin tahu asal Desa Mayangan, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang.
Menurutnya, dalam sekali produksi, biasanya tahu dipotong menjadi 20 potong. Namun kini satu loyang tahu dijadikan 25 potong. Otomatis tahu yang biasanya memiliki lebar 5 sentimeter kini berkurang jadi 4 sentimeter.
“Biasanya setiap mau pemilu itu selalu naik, dan naiknya itu sangat drastis. Kenaikan sudah terjadi sejak satu bulan terakhir, dari awal 10.500 sekarang jadi 12.500 per kilo nya,” kata Rohim, Senin (13/11) siang.
Naiknya harga kedelai impor itu, membuat pendapatan para produsen tahu menurun. Lantaran setiap kali produksi tahu, biasanya menghabiskan kedelai 1,5 ton, kini berkurang menjadi 1 ton kedelai dalam sekali produksi.
“Penghasilan jadi kurang selisih per hari 2 juta, itu kan sebenarnya bisa buat bayar in karyawan lah. Penurunan omzet 20 persen per hari. Biasanya habis 100 loyang (kotak cetakan tahu) kurang lebih, sekarang jadi 80 an loyang,” bebernya.
Ia pun berharap agar pemerintah segera mencarikan solusi untuk mengatasi kenaikan harga kedelai impor yang diperkirakan akan mengalami kenaikan.
Rohim khawatir, jika kondisi seperti ini berlangsung lama, tidak menutup kemungkinan para produsen tahu di Jombang akan berhenti produksi tahu.
“Ya mogok kerja. Kalau gak nutut ngapain diterusin bisa rugi. Yang terbaik ya berhenti produksi kalau pemerintah gak ada solusi,” tegas Rohim.
Reporter : Taufiqur Rachman / Agung Pamungkas



















