Trenggalek, SEJAHTERA.CO – Kakak beradik di Kabupaten Trenggalek sukses mengukir kisah sukses di dunia seni pirografi dan kerajinan batu akik.
Baca Juga :Ratusan Siswa Setingkat SD Ikut Lomba LGP3, Kapolres Trenggalek: Ini Tujuannya
Meski berkarya di bidang yang berbeda, keduanya memiliki satu kesamaan, yaitu cinta terhadap seni yang kini justru membuahkan cuan menggiurkan.
Adalah David Kurniadi dan Robeth Zarkasi. Pemuda asal Bumi Menak Sopal, sebutan lain Kabupaten Trenggalek itu kepincut pada seni bukan tanpa alasan. David sang kakak misalnya.
Pria berkacamata itu menggeluti seni batu akik karena terpikat dengan keindahan batu alam yang memiliki pesona unik dan karakter tersendiri. “Seperti misalnya batu watulumut asal Trenggalek,” kata David.
Baca Juga :Pertikaian Saudara, Adik Tewas Dipukul Keramik
Meskipun batuan agate itu banyak dijumpai di banyak daerah, namun watulumut asal Trenggalek memiliki ciri khas. Karakternya unik, warna beragam tidak hijau-hijau saja dan dapat berbentuk seperti pemandangan, hewan maupun pepohonan. Itu pula yang mendompleng karya-karyanya tembus ke luar negeri.
“Seperti negara-negara Asia sepertinya sudah pernah ada konsumen dari sana. Termasuk konsumen dari Amerika, Rusia, Polandia, Italia bahkan pernah Panama,” imbuhnya.
Baca Juga :Kandang Ternak di Tulungagung Terbakar, Kerugian Capai Rp 10 Juta
Berkecimpung sejak 2015-an, David mampu mengubah batu-batu itu menjadi sesuatu hal yang menarik hingga akhirnya memikat hati banyak orang.
Misalnya konsumen Amerika. Ia menyebut pembelian dari konsumen dari sana dengan jumlah besar, mulai puluhan hingga ratusan.
“Harganya pun dibanderol mulai Rp 10 dolar Amerika hingga tak terhingga, menyesuaikan kesepakatan. Sebab, rata-rata akik yang dikirim ke luar negeri masih dalam kondisi utuh, tidak termasuk cincinnya,” ujarnya.
Baca Juga :Bocah Enam Tahun Menderita Kecemasan Imbas Pencabulan
Berawal dari cintanya kepada batu akik kini membuahkan cuan yang menjanjikan, meskipun dia mengalami pasang surut terlebih saat Covid-19 melanda. Dia-pun dapat kepuasan batin karena bisa menyalurkan hobinya, disisi lain mendapatkan cuan dari kerajinan yang dihasilkan.
“Setelah Covid-19 bisa menghasilkan Rp 4-5 juta per bulan. Menurut saya ini adalah peluang usaha yang menjanjikan. Namun yang lebih bangga, produk Trenggalek bisa eksis di luar negeri,” pungkasnya.
Baca Juga :Dinkes Kabupaten Kediri Ingatkan Warga Waspada Ispa di Musim Peralihan
Berbeda dengan kakaknya, Robeth, adiknya, menemukan dunianya di dalam seni pirografi atau sebuah teknik seni dengan membakar permukaan kayu atau kulit untuk menciptakan gambar atau motif.
Seni ini membutuhkan ketelitian dan kesabaran tingkat tinggi, sesuatu yang Robeth nikmati dalam setiap prosesnya. Setiap ukiran pirografi yang ia hasilkan bukan hanya memperlihatkan keterampilan tangan, tetapi juga ekspresi jiwanya.
“Selain itu seni ini juga menantang, karena ketika salah dalam proses harus mengulang dari awal,” kata Robeth.
Baca Juga :Peringati World Clean Up Day, LMI-DLH Kota Blitar Kompak Resik-resik Kali Lahar
Perjalanan mereka dalam dunia seni tak selalu mulus. Namun, dari ketekunan dan dedikasi, mereka kini telah berhasil memetik hasil.
Penghasilan dari kerajinan seni mereka kini bervariasi, mulai dari ratusan ribu hingga mencapai juta rupiah, bergantung pada tingkat kesulitan dan keunikan karya yang dihasilkan.
Keberhasilan ini tidak datang dalam sekejap, tetapi melalui proses panjang yang penuh pembelajaran. Apalagi keduanya tidak ada ‘warisan’ darah seni, mengingat orang tua mereka bukanlah pelaku seni. Kedua orang tuanya adalah guru agama.
Baca Juga :Disdag Kabupaten Kediri Minta Kuota Tambahan Gas LPG 3 Kilogram ke Pertamina
“Dulu bapak saya guru agama. Makanya dulu saya sempat mondok sambil kuliah dengan harapan saya bisa menjadi guru seperti bapak saya,” imbuhnya.
Namun takdir berkata lain. Sekitar tahun 2018, dia mencoba membuat lukisan obong itu dan membuahkan hasil. Karya itu dia ciptakan untuk mengisi waktu karena untuk menjadi sebagai guru bukan perkara mudah. Hingga akhirnya ia membangun impian untuk menjadi pelaku seni pirografi.
Baca Juga :Polisi Buru Pelaku Penganiayaan hingga Meninggal Dunia yang Sempat Pesta Miras
“Untuk pesanan, masih area Jawa. Tapi pernah mendapatkan pesanan dari luar Jawa seperti Kalimantan dan Bali karena via medsos jadi menjangkau lebih luas,” ujarnya.
Capaian itu menjadi kebanggaan tersendiri baginya karena menambatkan hati pada pilihan yang tepat.
Di balik usahanya yang terbilang sukses, Robeth secara tidak langsung membuktikan bahwa lulusan pondok juga bisa berdaya saing, bahkan menciptakan lapangan kerja.
Diapun mengaku bersyukur, meskipun tidak sama dengan profesi yang ditekuni ayah, namun dia sudah bisa mandiri dan memberikan penghidupan bagi orang lain.
Baca Juga :Terekam Video, PPDI Diduga Mendukung Salah Satu Cakada, Bawaslu Tulungagung Lakukan Ini
“Untuk saat ini tidak hanya melayani lukis bakar. Tapi dekorasi, photo wood dan lainnya. Pokok intinya souvernir atau dekorasi berbahan kayu,” pungkasnya.



















