Trenggalek, SEJAHTERA.CO – Masyarakat Desa Sumurup di Kecamatan Bendungan, Kabupaten Trenggalek menggelar kirab budaya grebek 99.
Baca Juga :Kepala Kejari Jombang: Agunan Kredit PD Panglungan Gunakan Milik Perorangan
Kirab budaya grebek 99 menceritakan kisah tokoh Tumenggung Wiraguna saat melawan pagebluk.
Dalam cerita grebek 99 atau songo-songo, mengambil cerita dari kisah sebuah tokoh dari Mataram yaitu Tumenggung Wiraguna.
Dalam kegiatan adat istiadat itu diceritakan panglima besar yang pernah dimiliki Kerajaan Mataram itu datang ke desa tersebut untuk melawan pagebluk.
Baca Juga :Wujudkan Nol Persen Stunting di Kota Batu, Menuju Indonesia Emas 2045
Pagebluk sendiri dianalogikan sebuah penyebaran penyakit atau peristiwa anomali yang belum dapat diprediksi kapan bakal berakhir. Karena belum ditemukan obat atau jalan pemecahannya.
Untuk melawan pagebluk itu, Tumenggung Wiraguna diceritakan melakukan berbagai upaya mulai dari bertapa untuk bisa mengatasi wabah yang dilanda masyarakat. Dalam kisah cerita rakyat itu disebut, sang tumenggung harus bertapa selama 99 hari untuk mengusir pagebluk di Desa Sumurup.
“Ini meneladani cerita rakyat, kedatangan Tumenggung Wiraguna dari tanah Mataraman, yang dulu menghalau pagebluk. Dan ketika menghalau pagebluk beliau diceritakan bahwa bertapa selama 99 hari dan menggunakan 99 pusaka untuk mengusir pagebluk di Desa Sumurup,” kata Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin saat mengikuti kirab budaya grebek 99 di Desa Sumurup.
Hingga akhirnya, tumenggung diceritakan dapat mengusir pagebluk sehingga masyarakat menjadi sejahtera. Cerita itu oleh masyarakat setempat terus dikenang dan dilestarikan hingga kini. Mereka rutin menggelar kirab pusaka yang dulunya digunakan Tumenggung Wiraguna.
“Dimana 99 pusaka yang digunakan oleh Tumenggung Wiroguna ini setelah dibersihkan dikirab menuju Balai Desa Sumurup untuk diserahkan kepada Kepala Desa dan disemayamkan lagi di sana,” imbuhnya.
Baca Juga :Jelang Masa Kampanye Pilbup, KPU Ponorogo Sebut Calon Petahana Wajib Ambil Cuti
Kegiatan adat istiadat itu selain bentuk pelestarian budaya juga menjadi salah satu magnet bagi wisatawan. Terlebih Bumi Menak Sopal sebutan lain Kabupaten Trenggalek memiliki banyak cerita ragam budaya. Termasuk kandungan hikmah dalam setiap cerita-cerita turun temurun yang terus eksis hingga saat ini.
“Ini bentuk spirit bahwa untuk mencapai satu cita-cita itu butuh pengorbanan, butuh tirakat. Ini semoga di ilhami oleh seluruh masyarakat. Semangat kerja kerasnya semoga bisa mengendalikan Desa Sumurup sebagai desa yang maju,” pungkasnya.



















