Kediri, SEJAHTERA.CO – Sudah lima belas tahun, pria bertubuh tinggi besar sebagai juru pelihara (jupel) peninggalan sejarah Totok Kerot di Desa Bulupasar Pagu.
Sudah menjadi tanggung jawabnya menjaga kelestarian, keamanan dan ketertiban Totok Kerot. Menjaga lokasi bersejarah besar Kabupaten Kediri.
Adalah Hendris nama pria ini. Sudah jadi jupel sejak tahun 2011 hingga saat ini. Ada banyak pengalaman misteri saat berjaga malam hari, tiba-tiba saja terdengar suara bejana atau lonceng berulang dan Hendris tidak terpengaruh hingga suara itu hilang.
“Saat itu saya sedang nunggu teman dan suara itu hilang sendiri. Yang kedua adanya angin yang berputar kencang hanya di satu lokasi dan saya juga tak terpengaruh hingga suara itu hilang sendiri,” jelasnya.
Baca Juga :Diajak ke Hotel, 2 Anak Bawah Umur Disetubuhi, Tiga Remaja Ditangkap Polisi
Dijelaskan Hendris, selama bekerja sebagai jupel banyak tamu yang kunjung ke Totok Kerot dan tugas Endris memandu tamu tersebut untuk menyampaikan informasi yang benar dan akurat. Karena Totok Kerot ada cerita sejarah, legenda dan mitos.
“Selain warga, tamu yang datang adalah pelajar dan mahasiswa, mereka ada tugas dari sekolah atau dari kampus, malah ada yang penelitian terkait totok Kerot. Yang penting selama di lokasi tersebut tidak berbuat aneh aneh, “ jelasnya.
Hendris merupakan juru pelihara yang sudah berkompeten dan bersertifikasi di bidangnya. Wawasan budaya dan sejarah tidak diragukan lagi. Sehingga Hendris menguasai ilmu sejarah budaya Kabupaten Kediri utamanya Totok Kerot.
Baca Juga :Pembentukan Koperasi Merah Putih Tulungagung, Tinggal Tunggu Penerbitan SABH Kemenkumham
“Biasanya jika ada orang punya hajatan mantu atau sunatan sering juga warga suguh ubo rampe pepak. Dengan maksud kulo nuwun dan ini merupakan hal yang sering dilakukan warga,” imbuhnya.



















