Tulungagung, SEJAHTERA.CO – Masuk awal musim hujan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tulungagung sudah tidak lagi mengirimkan pasokan air bersih.
Meski hujan yang turun belum sepenuhnya merata di semua wilayah, namun sejak dua hari terakhir sudah tidak lagi ada permintaan air bersih.
Kabid Kedaruratan dan Logistik, BPBD Tulungagung, Gilang Zelakusuma mengatakan, pada awal bulan Desember 2023, bencana kekeringan di Kabupaten Tulungagung sudah mulai mereda. Berdasarkan catatan miliknya, wilayah terdampak kekeringan sudah tidak minta air bersih selama dua hari terakhir.
Diketahui, terdapat sebanyak tujuh kecamatan yang sempat terdampak bencana kekeringan di Tulungagung seperti Kecamatan Kalidawir, Besuki, Campurdarat, Tanggunggunung, Rejotangan, Pucanglaban dan Gondang. Namun dipastikan saat ini tujuh kecamatan tersebut sudah tidak lagi mengalami kekeringan.
“Memang saat ini sudah mulai hujan, tetapi belum merata. Hanya saja dari tujuh kecamatan terdampak kekeringan itu saat ini sudah tidak lagi ada yang meminta dropping air bersih,” kata Gilang Zelakusuma, Jumat (1/12/2023).
Meski sudah tidak lagi ada permintaan air bersih, menurut Gilang, Rabu (29/11/2023) kemarin masih ada satu desa yang meminta dropping air bersih, yakni Desa Banyu Urip, Kecamatan Kalidawir. Namun setelah permintaan air dikirim, sampai saat ini wilayah tersebut tidak meminta lagi.
Pihaknya, tidak tahu pasti kenapa wilayah kekeringan tersebut sudah tidak lagi mengajukan permintaan dropping air bersih ke BPBD Tulungagung. Namun, BPBD akan tetap siaga dan siap mengirimkan air bersih saat ada masyarakat yang kembali mengajukan permintaan air bersih.
“Hujannya memang belum merata, bahkan wilayah selatan intensitas hujannya masih minim, makanya kami kurang tahu kenapa sudah tidak ada permintaan lagi,” jelasnya.
Gilang menyebut, beberapa tandon air dari Pemprov Jatim untuk tujuh kecamatan yang terdampak kekeringan dipenuhi sebelum permintaan terakhir di Desa Banyu Urip.
Pihaknya menduga, adanya bantuan tersebut membuat persediaan air bersih untuk warga tercukupi.
Menurut Gilang, total ada sebanyak sembilan tandon air yang diberikan. Adapun tujuh tandon air dengan kapasitas 1.500 liter dari Pemprov Jatim dan dua tandon air kapasitas 5500 liter dari BNPB.
Adanya tandon air membuat pengiriman air bersih tidak lagi ke rumah-rumah warga. “Jadi dikirim langsung dan air bersih di simpan pada tandon air tersebut, bisa saja kebutuhan air bersih tercukupi setelah adanya tandon air, sehingga tidak perlu meminta air bersih setiap hari,” pungkasnya.
Reporter: Mochammad Sholeh Sirri
Editor: Dhita Septiadarma



















