Penderita Gagal Ginjal di Blitar Meningkat, Dinkes Imbau Jaga Pola Hidup Sehat

Penderita Gagal Ginjal di Blitar Meningkat, Dinkes Imbau Jaga Pola Hidup Sehat
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar, dr Christine Indrawati.

Blitar, SEJAHTERA.CO – Angka penderita gagal ginjal di Kabupaten Blitar dari tahun ke tahun terus meningkat. Ironisnya, penderitanya didominasi usia produktif antara umur 45 tahun hingga 54 tahun.

Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar, dr Christine Indrawati. Dia mengatakan pihaknya atensi khusus dengan gagal ginjal. Ini karena dari tahun ke tahun ada tren kenaikan pasien.

Dia menyebut pada 2023 lalu saja, sudah ada 469 pasien gagal ginjal. Jumlah itu meningkat pada 2024 lalu dengan total 517 penderita. Sementara pada 2025 ini masih dalam pendataan.

Read More

Baca Juga :Razia Gabungan Tempat Hiburan Malam di Ngasem, Satu Orang Positif Narkoba

“Harapannya turun tahun 2025 ini. Karena pasien gagal ginjal ini perlu penanganan khusus,” katanya, Minggu (16/3/2025).

Dia mengatakan, harus penanganan khusus karena ketika menderita gagal ginjal, harus mendapatkan penanganan tim dokter. Yakni dengan hemodialisa atau cuci darah.

Frekuensi cuci darah ini tergantung stadium atau tingkatan kerusakan gagal ginjal. Disebut gagal ginjal, karena ginjal yang berfungsi untuk filter zat-zat berbahaya, fungsinya sudah tidak normal.

Gagal ginjal sendiri dipicu beberapa hal item. “Banyak pemicunya, salah satunya dari makanan atau minuman yang dikonsumsi, ataupun obat-obatan,” katanya.

Baca Juga :Pembebasan Lahan JLS di Kabupaten Blitar Ditargetkan Kelar Tahun Ini

Dia menjelaskan beberapa pemicu gagal ginjal itu ada yang karena kerap mengkonsumsi jamu seduh bercampur obat kimia.

Jamu seduh ini biasanya dikonsumsi bagi yang menginginkan kebugaran dan menghilangkan rasa sakit sesaat.

Pihaknya mengindikasikan pemicu itu, karena dari hasil pengamatan, kebanyakan penderita ini karena kebiasaan meminum jamu seduh yang dicampur obat kimia.

“Biar kuat bekerja dan tak gampang Lelah. Padahal, ini jika frekuensinya banyak, juga mempengaruhi fungsi ginjal,” jelasnya.

Baca Juga :Pemkab Ponorogo Jalin Kerja Sama Antardaerah untuk Kendalikan Inflasi Jelang Idulfitri

Hal itu diperparah dengan frekuensi meminum air putih atau air tawar yang jarang.

Selain itu, lanjut, pemicu lain bisa disebabkan karena kerap mengkonsumsi makanan berpengawet atau instan.

Ada pula minuman berpengawet yang dikonsumsi secara terus menerus. Hal itu menjadikan fungsi ginjal berpengaruh. Artinya, ginjal dipaksa untuk bekerja untuk memfilter zat berbahaya. Karena ada endapan. “Kalau ini terus menerus, ginjal akhirnya berpengaruh,” katanya.

Baca Juga :Tambang Pasir Berizin Didemo Warga, Perusahaan Berhenti Beroperasi

Dia menambahkan, untuk mengantisipasi salah satunya menerapkan pola hidup sehat. Kurangi konsumsi makanan dan minuman berbahaya berpengawet dan jaga kebugaran tubuh.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *